KH. M. Al Khaththath : Ganti Rezim Ganti Sistem, Siapa Takut?

26/01/2010

“Ganti Rezim Ganti Sistem”.  Kalimat itu tertulis dalam salah satu spanduk besar di pintu gerbang DPR Senayan Jakarta.  Dalam berbagai diskusi dan perbincangan seruan tersebut muncul. Juga beredar via sms.  Bagi aktivis pergerakan tentu kata-kata tersebut akan dijawab: “Siapa takut?”.
Namun yang lebih penting adalah penjabarannya.  Mau diganti dengan rezim siapa dan system apa?.Tentu tidak mudah menjawabnya.

Sebagai contoh, seruan-seruan itu juga muncul dalam pernyataan nara sumber maupun celetukan peserta suatu diskusi yang menghubungkan terbitnya buku “Gurita Cikeas” dengan kemungkinan runtuhnya rezim SBY di TIM beberapa waktu lalu. Suasana revolusi dan semangat ganti system ganti rezim cukup kental. Namun para pembicara tidak memberikan gambaran yang jelas untuk jawaban pertanyaan saya di atas. Misalnya saja pernyataan Saurip Kadi bahwa TNI selama ini dikuasai para kapitalis, maka harus dikembalikan kepada demokrasi. Tentu ini menimbulkan pertanyaan.  Sebab negara kapitalis terbesar di dunia sekarang ini, AS, adalah pengusung system demokrasi nomor wahid!

Walau terasa asing, saya yang hadir dalam diskusi yang didominasi kaum nasionalis dan sosialis tersebut ikut nimbrung mengapresiasi suasana revolusi diskusi tersebut.  Saya menyampaikan pandangan revolusioner saya untuk mengakhiri korupsi akut laksana kanker stadium 4 di negeri ini. Saya katakan, pemimpin revolusi harus mengumumkan keadaan darurat dan mencekal seluruh pejabat dan mantan pejabat tinggi serta para konglomerat. Pemimpin revolusi mengumumkan agar mereka yang dicekal mengisi formulir isian harta milik mereka. Bilamana mereka memiliki harta yang lebih dari batas kepatutan jabatan mereka, maka mereka wajib mengembalikan harta tersebut kepada negara. Mereka yang mengembalikan harta yang terindikasi hasil korupsi itu langsung mendapat pengampunan  tanpa proses hukum, mengingat proses hukum sudah tidak bisa dipercaya lagi.   Bilamana dalam batas waktu tertentu mereka tidak mengembalikan harta kelebihan yang tidak wajar itu, maka akan diberlakukan hukum revolusi. Hukum yang efektif untuk itu adalah hukum syariat Islam, yakni para koruptor dihukum sesuai dengan jumlah harta yang dikorupsi. Bila kecil, cukup push up, dicambuk atau kerja paksa. Bila besar, bisa dipotong tangan.  Namun bila besar sekali, bisa dipotong lehernya.  Sesuai kebijaksanaan hakim revolusi.  Revolusi Islam, jangan dikhawatirkan. Non muslim akan kami lindungi. Allahu Akbar!!!

Sayangnya Saurip Kadi, yang sejak awal diskusi tampak heroic, dan seolah-olah sudah siap menggulung rezim yang ada, justru menyatakan bahwa kondisi kita belum siap untuk revolusi!  Mantan Aster KSAD itu mengatakan bahwa masalah-masalah yang ada ini harus dikembalikan kepada system pemerintahan demokrasi!

Di sinilah keraguan saya kepada slogan-slogan “revolusi”, “ganti rezim ganti system”,  atau seruan-seruan yang lebih seru lainnya yang diteriakkan oleh pihak-pihak tertentu, maupun propaganda-propaganda gerakan yang seolah-olah betul-betul gerakan rakyat seperti “Glandes” atau yang sekarang sedang dirancang untuk aksi “besar-besaran” pada tanggal 28 Januari menyongsong 100 hari pemerintahan SBY.

Sebab, sesungguhnya antara mereka yang mau menjatuhkan dengan yang hendak dijatuhkan itu sama, yakni sama-sama sekuler dan anti Islam. Namun, riak-riak gerakan mereka dalam mengeksploitir kasus Century Gate ini juga menunjukkan bahwa sekalipun mereka sama, namun masing-masing beda kepentingan. Misalnya, pecahnya kongsi SBY dengan Budiono.  Konon juga antara Budiono dengan grup Sri Mulyani.  Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syatta!

Bahwa rezim korup dan system bobrok ini harus diganti, tentu kita setuju. Sebab, rezim dan system yang ada ini tidak memenuhi tuntutan kewajaran dalam mengelola negera dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Rezim dan system pemerintahan menurut Imam Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sulthaniyyah memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai pengawal agama (hiraasah ad diin) dan pemelihara urusan umat (siyasah ad dunya).

Rezim SBY ini tidak melindungi Dinul Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas warga negara dengan sikapnya tidak membubarkan Ahmadiyah. Terkesan justru melindungi aliran yang menodai Al Quran dan aqidah umat Islam itu dengan SKB yang diterbitkan. Akibatnya berbagai aliran sesat terus bermunculan di negeri ini.  Sedangkan di pihak lain mereka yang dengan alasan gerakan pemberantasan korupsi sudah kebelet menurunkan rezim ini ternyata telah mengajukan  permohonan uji materiil kepada Mahkamah Konstitusi untuk mencabut UU No 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama yang merupakan payung hukum bagi pembubaran Ahmadiyah dan aliran penoda agama lainnya. Artinya, kalau MK mengabulkan permohonan mereka, berarti rezim dan system negara ini sudah tidak lagi melindungi Islam dari penodaan Ahmadiyah dan aliran penoda lainnya.

Rezim dan system ini juga tidak memiliki siyasah ad dunya yang brilian untuk mengelola bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya buat sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.  Rasulullah saw. bersabda: “Air, padang rumput, dan api (energi) adalah milik bersama umat”. Konsekuensi hukumnya, pengelolaannya harus oleh BUMN, tidak boleh diprivatisasi, apalagi diserahkan kepada perusahan asing seperti Freeport, Exxon, Caltex, Newmont, Danone, dll.   Kasus Century 6.7T, BLBI 600T, dan jebakan utang yang membuat rakyat jadi sapi perahan selamanya karena harus menanggung beban bayar bunga 100T per tahun di APBN adalah contoh-contoh dari buruknya siyasah (pemeliharaan urusan umat).

Cukuplah bagi kita firman Allah SWT: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah..(QS. Al Baqarah 276) untuk menyimpulkan  bahwa system ini tidak layak untuk kita dan harus segera diganti. Siapa takut?.

KH. M. Al Khaththath : Pangdam TNI Diminta Belajar Soal Pangeran Diponegoro

20/08/2009
diponegoro-1Kritik tajam datang dari Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath atas pernyataan Pangdam IV Diponegoro, Mayjen Haryadi Soetanto yang meminta masyarakat waspada terhadap orang bersurban serta berjenggot.

Menurut Al Khaththath pernyataan itu tidak layak dilontarkan seorang petinggi TNI. “Pernyataan Pangdam IV Diponegoro adalah tindakan gegabah, kalau orang bersorban dan berjenggot harus dilaporkan,” ujar Sekjen Forum Umat Islam, Muhammad Al Khaththat kepada okezone, Selasa (18/8).

Kemarin, Mayjen Haryadi dalam acara peringatan detik-detik Proklamasi di Lapangan Pancasila, Simpanglima, Semarang, meminta masyarakat agar secepatnya melapor ke aparat apabila melihat orang bersurban, berjubah, dan berjenggot dengan perilaku yang mencurigakan.

Menurut Al Khaththat, Mayjen Haryadi itu tidak pantas menjadi Pangdam IV Diponegoro. Pasalnya Pangeran Diponegoro juga menggunakan sorban. “Bagaimana dengan Pangeran Diponegoro yang menggunakan sorban, Pangdam Diponegoro apa tidak mengaca,” tegasnya.

Menurut Al Khathtat sorban adalah ciri umat Islam dan juga merupakan sunnah Rasullah. Lebih lanjut Al Khathat juga menambahkan, sebaiknya diruangan Mayjen Haryadi juga diletakkan gambar Pangeran Diponegoro. “Apakah Pangeran Diponegoro itu pakai topi Belanda atau pakai sorban,” pungkasnya. (mj/okezone.com)

KH. Abd. Rasyid Abdullah Syafii : Sistem Ekonomi Riba Pasti Musnah

09/06/2009

kyai abdul rasyidSuara Islam edisi 68.

Firman Allah SWT:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.  Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. Al Baqarah 275-276).

Tafsir ayat riba

Muhammad Ali As shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam mengatakan bahwa maksud “makan”  pada ayat di atas adalah mengambil dan membelanjakannya.  Digunakannya kata makan di sini mengingat maksud utama mengambil dan membelanjakan riba adalah untuk dimakan.  Sebab makan adalah memenuhi kebutuhan pokok.  Membelanjakan untuk keperluan lain adalah memenuhi kebutuhan sekunder.  Selain itu kata “makan” ini sering dipakai dengan arti mempergunakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar.

Para pemakan riba dalam ayat di atas dipersamakan dengan orang-orang yang kesurupan merupakan ungkapan yang halus sekali.  Yakni, Allah SWT memasukkan riba ke dalam perut mereka itu sehingga memberatkan mereka.  Hingga mereka sempoyongan, jatuh bangun.  Itu akan menjadi tanda mereka nanti di hari kiamat sehingga semua orang mengenalinya.

Para memakan riba itu keterlaluan di dalam menganggap riba sama dengan jual beli yang halal, yakni mereka menghalalkan riba seperti jual beli padahal Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Allah SWT akan memusnahkan riba dan menumbuhkan shadaqah atau zakat.  Para pemakan riba mencari keuntungan dengan muamalah riba.  Sedangkan para penolak bayar zakat hendak mencari keuntungan dengan menolak membayar zakat yang telah disyariatkan Allah SWT agar diambil dari sebagian harta orang muslim untuk disucikan.  Allah SWT justru menerangkan bahwa riba itu menyebabkan kurangnya harta dan menjadi sebab tidak berkembangnya harta.  Sedangkan zakat adalah penyebab tumbuhnya harta dan bukan penyebab berkurangnya harta.

Hukum Riba

Dalam ayat di atas jelas haramnya riba.  Allah SWT berfirman:

“Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Keharaman riba itu ditegaskan kembali oleh Allah SWT  dalam firman-Nya:

278.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

279.  Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al Baqarah 278-279).

Riba dengan segala macamnya diharamkan berdasarkan nas-nas yang tegas di atas,  Sedikit ataupun banyak hukumnya sama.  Tepat sekali apa yang difirmankan Allah: “Allah menghapuskan riba dan menumbuhkan zakat, dan Allah tidak suka setiap orang yang tetap dalam kekufuran dan banyak berbuat dosa”.

Riba yang diharamkan oleh Islam itu ada dua macam: riba nasiah dan riba fadhl.  Riba nasiah adalah seorang menghutangi uang dalam jumlah tertentu kepada seseorang dengan batas tertentu, misalnya sebulan atau setahun, dengan syarat berbunga sebagai imbalan batas waktu yang diberikan itu.

Ibnu Jarir berkata: Di zaman jahiliyah biasa terjadi seseorang meminjami uang kepada orang lain untuk waktu tertentu.  Kemudian  apabila batas waktu yang diberikan itu sudah habis, ia minta uang tersebut untuk dikembalikan.  Lalu orang yang berhutang tadi mengatakan kepada yang memberi hutang : Berilah aku waktu dengan uangmu itu akan kubayar lebih.  Lalu keduanya sepakat untuk melaksanakan.  Itulah riba yang berlipat ganda.  Kemudian mereka masuk Islam dan dilarangnya praktek seperti itu”.

Riba semacam inilah yang kini berlaku di bank-bank dimana mereka mengambil keuntungan tertentu, sebesar sekian persen-sekian persen.

Riba fadhl adalah manakala seseorang menukarkan barangnya dengan barang sejenis dengan suatu tambahan.  Misalnya gandum 1 kg dengan gandum 2 kg.  Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, beras dengan beras, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus ditukar dengan setara dan kontan.  Siapa saja yang menambah atau minta tambah berarti telah berbuat riba.  Yang menerima dan memberi adalah sama” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain dikatakan: “Tetapi kalau jenis-jenis itu berbeda maka juallah/tukarlah sesukamu, asal secara kontan” (HR. Muslim).

Riba fadhl ini kini terjadi pada bursa-bursa barang (future trading) maupun bursa-bursa uang.

Bahaya system riba

Apapun jenisnya, riba dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya.      Diriwayatkan bahwa sahabat Jabir r.a. berkata:

“Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba, yang memberi makan riba dengan harta riba, penulis riba, dan saksi riba—dan dia bersabda—semuanya sama”.

Dan perbankan ribawi inilah yang kini mengendalikan system perekonomian dunia.  Bahkan bank-bank sentral di berbagai negara pun kini tidaklah di bawa kendali kepala negara, tetapi justru di bawah kendali IMF dan Bank Dunia yang merupakan alat dari para rentenir kelas dunia.

Di samping itu system perekonomian dunia dikendalikan dengan on line-nya system bursa di seluruh dunia dan berbagai perundangan yang meliberalkan system keuangan dan modal yang kerap menimbulkan krisis keuangan dan sangat rentan dengan pelarian modal (capital flight).   Sistem pasar saham dan pasar uang yang merupakan riba (riba fadhl) inilah yang telah menjatuhkan bursa saham dan bank-bank pada tahun 1930-an  (great depression) sehingga menjadi krisis global selama 10 tahun yang menyebabkan terjadinya perang dunia kedua (1939).     Dan inilah yang terjadi pada krisis global hari ini di mana bank-bank dan perusahan skuritas  di AS berjatuhan.

Kesimpulan

Sistem perekonomian ribawi yang dilaknat Allah adalah system yang menguntungkan segelintir konglomerat dan para bankir namun menyengsarakan mayoritas penduduk dunia.  Sistem ekonomi tersebut secara siklik akan mengalami krisis karena hakikat dari system ribawi adalah tidak mendorong pertumbuhan harta tapi sekedar pertumbuhan modal yang itu lebih merupakan permainan angka-angka karena mayoritas system ekonomi ribawi itu adalah sector non riil.  Lebih dari itu, system tersebut adalah system yang diharamkan dan dilaknat oleh Allah SWT sehingga tidak ada keberkahan di dalamnya.  Wallahua’lam!

KH. M. Al Khaththath : PIAGAM UMAT ISLAM

04/06/2009

mak-okHarapan umat untuk mendapatkan capres pro syariah yang seharusnya diusung oleh koalisi partai-partai Islam telah pupus.  Sebab partai-partai Islam, sekalipun banyak ditentang oleh para kader maupun konstituennya, telah memutuskan untuk berkoalisi dengan SBY yang mengangkat Boediono sebagai cawapres.  SBY memandang sebelah mata  keberadaan cawapres dari partai-partai Islam yang total suaranya lebih besar dari Partai Demokrat milik SBY.  Oleh karena itu, dalam pilpres kali ini umat Islam tampaknya sulit berharap.
Namun, sebagai pemandu perjalanan umat, para ulama, habaib, dan pimpinan organisasi massa Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) telah merumuskan suatu piagam perjuangan untuk mewujudkan tatanan negara dan bangsa muslim terbesar ini agar lebih terarah menuju masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT sehingga mendapatkan janji Allah, yakni keberkahan dari langit dan bumi (lihat QS. Al A’raf 96).  Setelah menampung berbagai masukan dan usulan dari berbagai tokoh yang berembug di rumah sesepuh FUI, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’I dan bahan dari Masyarakat Peduli Syariah (MPS) yang dipimpin H.Bambang Setyo, maka tersusunlah draft pigam sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur melalui Kepemimpinan Negara yang beriman, bertaqwa dan senantiasa memegang amanah, pada hari ini… tanggal…bulan… tahun 1430 H (Seribu empat ratus tiga puluh Hijriah), bertepatan dengan tanggal… bulan…tahun 2009 M (dua ribu sembilan Masehi), kami yang bertanda tangan di bawah ini bersepakat dan bertekad untuk mewujudkan secara bersama-sama:

1.    Menjaga aqidah ummat, dengan memberantas berbagai aliran sesat dan menyesatkan, seperti organisasi Ahmadiyah; menanggulangi penyebaran pemikiran yang menyimpang seperti sekularisme, pluralisme dan liberalisme; serta berbagai tindakan yang menista agama.

2.    Memperjuangkan penerapan syariah dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara konstitusional dalam berbagai bentuk; mempertahankan perda-perda syariah yang sudah diberlakukan; serta mendukung lahirnya perda-perda syariah di berbagai daerah.

3.    Membangun sistem ekonomi syariah; menghentikan sistem kontrak karya pertambangan; nasionalisasi aset-aset strategis; menghentikan privatisasi BUMN; mengembangkan industri strategis; mengembalikan pengelolaan sumber daya alam kepada perusahaan-perusahaan umum milik negara; serta menggerakkan sektor riil sebagai basis perekonomian.

4.    Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ummat; membangun sistem kesehatan gratis bagi seluruh rakyat; membangun sistem pendidikan berbasis iman dan taqwa; mengalokasikan anggaran pendidikan secara penuh dan mewujudkan pendidikan gratis bagi rakyat; serta memajukan sekolah-sekolah Islam baik negeri maupun swasta.

5.    Menentang intervensi asing dalam politik, ekonomi dan berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia; membersihkan pemerintahan Indonesia dari kaki tangan imperialis; serta menolak pendirian pangkalan militer negara asing di wilayah Indonesia.

Demikian kesepakatan kami. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi kesepakatan ini….

Piagam tersebut bila tidak ada halangan insyaallah akan ditandatangani oleh para ulama/habaib/pimpinan organisasi Islam.  Sudah sekitar 100 orang tokoh yang siap menandatangani.  Rencananya akan ikut tanda tangan salah satu pasangan capres-cawapres yang sudah memberikan kode mau ikut dalam perjuangan mewujudkan kelima poin di atas.

Tentu saja dalam hal ini FUI akan menitipkan aspirasi perjuangan di atas kepada pasangan capres-cawapres yang ikut tanda-tangan manakala mereka terpilih menjadi presiden dan wakil presiden yang definitif melalui pilpres 8 Juli mendatang.  Dan lima poin di atas memang merupakan poin-poin yang bila diperjuangkan terkategori dalam istilah ”al amru bil mak’ruf wan nahyu anil munkar” atau menyuruh perbuatan yang baik menurut ajaran Islam dan melarang perbuatan yang buruk menurut ajaran Islam.

Tentu saja melaksanakan ”al amru bil makruf wan nahyu anil munkar” akan lebih efektif bila dilakukan secara terorganisir oleh jamaah di antara kaum muslimin (lihat QS. Ali Imran 104), apalagi bila dilakukan oleh para penguasa muslim yang punya otoritas kekuasaan untuk memerintah dan melarang (lihat QS. Al Hajj 41).

Namun semua itu tidak mungkin terwujud tanpa kerja sama yang baik di antara tokoh-tokoh Islam, baik kalangan ulama maupun penguasa.  Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah 71).

Oleh karena itu, semoga ”Piagam Umat” di atas menjadi tonggak sejarah bagi kebangkitan umat di negeri ini untuk menuju kejayaan Islam wal muslimin.  Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq!

KH. Abdul Rasyid AS : “UMMAT TERBAIK”

03/06/2009

kyai abdul rasyidUMMAT TERBAIK

KH. Abdul Rasyid AS, Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah

Firman Allah: “Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran 110). Firman Allah SWT di atas merupakan pernyataan dari Allah Swt bahwa umat Sayidina Muhammad Saw., yakni kaum muslimin, sebagai umat yang terbaik di antara umat manusia di muka bumi. Imam Qurtubi dalam tafsirnya mengutip sebuah hadits dari Bahz bin Hakim bahwa tatkala membaca ayat ini Rasulullah bersabda : “Kalian adalah penyempurna dari 70 umat, kalian yang terbaik di antara mereka dan termulia di sisi Allah” (HR. At Tirmidzi). Menurut Imam Al Qurtubi dan Imam Ibnu Katsir, predikat tersebut sama dengan “ummatan wasathan” yang Allah sebut dengan firmanNya : “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al Baqarah 143). Berkaitan dengan kondisi umat yang terpuruk saat ini, ada yang bertanya apakah predikat tersebut hanya untuk kaum muslimin terdahulu, yakni di masa shahabat, ataukah hingga hari kiamat? Menurut Ibnu Abbas ra., sebagaimana dikutip Imam Qurtubi, kelompok orang yang berpredikat umat terbaik yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yang ikut dalam perang Badar, dan ikut dalam perjanjian Hudaibiyah. Namun Umar bin Khaththab mengatakan siapa saja yang beramal seperti mereka, levelnya seperti mereka. Imam Az Zamkahsyari dalam tafsirnya Al Kasysyaf Juz I/392 menyebutkan dikatakan bahwa dalam ilmu Allah kalian adalah ummat terbaik. Juga kata beliau bisa diartikan bahwa kalian disebut-sebut dikalangan umat-umat terdahulu sebagai khairu ummah. Apakah yang terbaik di antara umat Islam ini, yang awal ataukan yang akhir? Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengutip sebuah riwayat hadits, bahwa Rasulullah Saw : “Umatku bagaikan hujan, tak diketahui, yang lebih baik itu yang pertama ataukah yang terakhir” (HR. Abu Dawud At Thayalisi dan Abu Isa At Tirmidzi). Artinya, kalau dulu sudah muncul umat yang terbaik, bukan tidak mungkin di masa mendatang akan muncul kembali. Keunggulan Umat Terbaik Keunggulan kaum muslimin yang menjadi umat terbaik ini di antara umat manusia disebut oleh Abu Hurairah ra., (lihat Al Qurtubi, idem) dalam ucapannya : “Kami adalah yang terbaik di antara manusia, kami mengarahkan mereka untuk menapaki jalan menuju kepada Islam” Dan dengan cepatnya umat terbaik yang senantiasa membimbing umat manusia ke jalan Islam, mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, membuka berbagai wilayah bagi kedaulatan Islam, serta mendapati umat manusia dari berbagai bangsa, bahasa, negara dan adat istiadat menerima Islam sebagai keyakinan dan aturan hukum buat kehidupan mereka. Mereka mengarahkan pikiran manusia dengan cara yang argumentatif, logis sebagaimana diajarkan oleh Allah Swt agar senantiasa mengajak manusia berfikir dengan bukti-bukti yang nyata, yakni dakwah bil hikmah (QS. An Nahl 125). Apabila ada halangan fisik terhadap dakwah, mereka dengan gagah berani menyingkirkan halangan fisik itu dengan jihad fi sabilillah. Dan karena mereka adalah manusia unggulan, dalam perang pemikiran maupun perang fisik pun mereka senantiasa unggul.. Allah Swt menjamin kualitas unggulan mereka dalam firmanNya :”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu dari pada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tak mengerti” (QS. Al Anfal 65). Jelaslah bahwa kualitas umat terbaik itu dibandingkan dengan rang-orang kafir, atau umat-umat lain, adalah 1 orang muslim mampu mengalahkan 10 orang kafir. Itu dalam kondisi prima, dalam kondisi kaum muslimin ada kelemahan, Allah Swt masih memberikan garansi bahwa kaum muslimin akan sanggup mengalahkan kekuatan orang kafir yang jumlahnya dua kali lipat kekuatan mereka (QS. Al Anfaal 66). Sejarah mencatat bahwa di masa Khalifah Umar bin al Khaththab tentara kaum musilmin menaklukkan adidaya Rumawi dan Persia. Syarat Umat Terbaik Mujahid, sebagaimana dikutip Imam Al Qurtubi, mengatakan bahwa keunggulan umat Islam itu dengan syarat memenuhi sifat-sifat yang disebut dalam ayat itu. Ada tiga sifat yang dimiliki oleh ummat pengemban risalah Muhammad SAW ini yang menyertai predikat anugerah Allah SWT sebagai ummat yang terbaik, yakni : “Menyuruh kepada yang yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan Beriman kepada Allah SWT. Itulah tiga sifat yang menjadi unsur-unsur kebaikan umat Rasulullah SAW. Perlu dipahami, bahwa iman kepada Allah SWT tentu harus ada terlebih dahulu sebelum amar ma’ruf nahi mungkar. Demikian pula iman kepada risalah Islam. Sebab aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar tidak ditentukan oleh tradisi masyarakat, melainkan oleh syari’at yang diturunkan oleh Allah SWT. Menurut Imam Az Zamaksyari (idem), penyebutan iman kepada Allah SWT dalam ayat ini berarti termasuk juga iman kepada segala yang diwajibkan oleh iman kepada Allah SWT, seperti iman kepada rasul-Nya, kitab-Nya, hari kebangkitan, hari perhitungan, pahala dan siksa dll. Menurutnya, jika tidak disertai iman kepada itu semua belum terhitung sebagai iman kepada Allah SWT. (lihat QS. An Nisa 150-151). Dalam konteks kekinian, ketertarikan sebagian umat Islam kepada ideologi dan sistem hidup selain Islam, seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, sekulerisme dan lain-lain pandangan hidup yang bertentangan dengan Islam, bisa menjadikan mereka tergelincir dari keimanan kepada Allah Swt yang sebenarnya. Akibatnya, mereka tak bakal menemukan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di bawah naungan Islam. Apalagi mendapatkan gelar umat terbaik. Dalam mengulas ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyertakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Durrah binti Abi Lahab berkata : Bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW pada waktu beliau berpidato di mimbar : Siapakah orang yang terbaik yang Rasullah? Rasululah SAW menjawab : “Manusia yang terbaik adalah manusia yang paling banyak membaca, paling bertaqwa kepada Allah SWT, paling giat melakukan amar ma’ruf nahi mngkar dan paling suka bersilaturahmi”. Kesimpulan Predikat umat terbaik akan bisa terwujud kembali pada umat ini manakala umat ini berhasil mewujudkan kondisi yang kondusif bagi terpenuhinya syarat-syarat umat terbaik, yakni secara pribadi maupun komunal, umat Islam mewujudkan keimanan mereka kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan, dan secara mantap melaksanakan mekanisme controlnya, yakni senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan demikian perintah dan larangan Allah SWT alias halal-haram menjadi standar umum di masyarakat dalam rangka mengatur interaksi antar individu dan kelompok dalam masyarakat. Wallahua’lam!

Dicari Pemimpin Ideal

20/05/2009

ust-khaththath21Tanggal 11 Mei 2009 pendaftaran pasangan capres-cawapres baru dibuka.  Meski belum mendaftar, Partai Golkar dan Hanura telah mantap mengumumkan pasangan JK-Wiranto.   SBY menunda pengumumannya pada hari terakhir pendaftaran.  Mega dan Prabowo belum jelas….
Beberapa hari menjelang hari pendaftaran dari Masjid Agung Banten saya mengirim sms kepada Ketua DPP-PKS/PPP/PKB/PAN/PBB/PMB/PKNU agar memanfaatkan pecahnya kutub SBY/JK/Mega untuk membentuk koalisi Islam (at tahalluf al Islami) atas dasar aqidah wal ukhuwwah untuk tetapkan CAPRES PRO SYARIAH untuk pilpres mendatang. Saya tekankan   dalam sms tersebut agar mereka percaya kepada janji Allah kepada orang-orang mukmin yang mukhlis (QS. An Nuur 55) bahwa Dia SWT akan memberikan kekuasaan kepada mereka untuk mengokohkan dinullah.  Saya juga sampaikan bahwa FUI siap bantu   sukseskan hal itu…
Namun hingga tulisan ini dibuat tidak satupun partai Islam dan berbasis massa  Islam tersebut meresponnya.  Ternyata satu persatu mereka sudah merapat ke kubu SBY.

Siapa di antara para capres yang ada itu yang ideal? Apa ukurannya?

Tentu saja sebagai umat Islam, kita harus melihat perkara ini dengan perspektif Islam.

Rasulullah saw. Pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Wahai Abu Dzar,. sesungguhnya anda adalah orang yang lemah  dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanat dan sesungguhnya pada hari kiamat akan menjadi sesalan dan kehinaan.  Kecuali orang yang mengambil jabatan dengan hak dan melaksanakan yang menjadi kewajibannya dalam jabatannya” (HR. Muslim).

Dalam hadits di atas Rasulullah saw. tidak memberikan jabatan kepada Abu Dzar Al Gihfari r.a. dengan menyebut bahwa Abu Dzar adalah orang yang lemah.  Oleh karena itu, salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah memiliki kemampuan (qudrah) agar bisa mengemban segala tugas dan kewajiban yang ada dalam amanat jabatan tersebut.

Allah SWT memilih Thalut menjadi Raja Bani Israil dan memberinya kelebihan ilmu dan fisik, bukan kelebihan harta kekayaan.  Dia SWT berfirman:

Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”.. (QS. Al Baqarah 247).

Jelas pemimpin harus memiliki tubuh yang sehat dan kuat, tidak pernah atau jarang sekali sakit.  Sebab pemimpin yang sering sakit berarti akan sering udzur dari kewajibannya mengurus urusan rakyat.  Padahal pemimpin itu kata Nabi laksana penggembala (ra’in) yang harus memelihara domba-domba gembalaannya (ra’iyyah).   Jadi pemimpin itu tugas utamanya adalah memelihara kemaslahatan rakyat.

Ilmu yang luas, khususnya ilmu pengetahuan politik dalam arti pengetahuan tentang bagaimana mengurus kemaslahatan rakyat menurut petunjuk syariat Islam (as siyasah as syar’iyyah), juga menjadi keharusan bagi seorang pemimpin. Dengan wawasan ilmu yang luas pemimpin akan mengetahui jalan-jalan keluar bagi upaya  menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam memelihara urusan rakyatnya.  Termasuk dalam melindungi negara dan rakyat dari serangan bangsa asing dan kaum kafir imperialis.

Dengan penguasaan ilmu siyasah syar’iyyah yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul seorang pemimpin memiliki kepekaan yang tinggi terhadap nasib umat. Khalifah Umar bin Khaththab adalah contoh figur pemimpin yang kuat dan dicintai Allah.  Beliau sangat perhatian  kepada nasib rakyat.  Tiap malam beliau keliling untuk melihat keadaan rakyatnya.  Suatu malam beliau melihat seorang ibu yang menanak batu untuk menghibur anaknya yang kelaparan.  Maka beliau segera kembali ke baitul mal untuk mengambil sekarung gandum yang beliau panggul sendiri untuk diberikan kepada ibu itu.  Ini menunjukkan perhatian dan kepekaan beliau sangat tinggi.  Jangankan kepada manusia, terhadap keselamatan hewan saja beliau perhatian.  Pernah suatu hari beliau berkata : ”Kalau sekiranya ada keledai yang tergelincir di Irak, saya khawatir Allah SWT akan menanyaiku di akhirat kelak.”.

Jadi presiden yang ideal bagi umat Islam adalah presiden yang memiliki iman yang kuat, yang siap menjalankan syariat Allah SWT dalam kehidupan pribadinya maupun dalam pemerintahannya, yang punya kemampuan fisik dan ilmu syariat yang luas, ketegasan di dalam memutuskan kebijakan berdasarkan halal dan haram yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah saw., serta kepekaan yang tinggi terhadap nasib rakyat.

Dengan kriteria-kriteria tersebut, insyaallah umat Islam akan memilih siapa presiden yang ideal buat mereka.  Kalau tidak, belajar dari kasus pemilihan DPR dan DPD kemarin, umat ini memilih kepala negaranya dengan kebodohan tentang siapa sesungguhnya mereka.  Memprihatinkan!  Wallahua’lam!

KH. Cholil Ridwan, Lc : Peranan Wanita Dalam Dakwah Islam

20/05/2009

fui10aAssalamu’alaikum wr wb. Pak Ustadz, apa sebenarnya peran kaum wanita Muslimah dalam mengemban dakwah Islam. Secara syari’ apakah mereka wajib mengemban dakwah seperti halnya kaum pria, atau bagaimana? Syukran atas jawabannya.
Nisa’, Sidoarjo

Jawab:

Wassalamu’alaikum wr wb.

Pada dasarnya, hukum syara’ itu dibebankan kepada laki-laki dan wanita. Tidak ditemukan perbedaan di antara kedua jenis kelamin dalam hal taklif (pembebanan hukum), kecuali bila terdapat nash-nash yang membedakannya.

Apabila terdapat seruan seperti: “Hai orang-orang yang beriman”, maka seruan tersebut selain ditujukan untuk kaum lelaki mencakup pula wanita. Dengan demikian, tidak perlu ada seruan khusus untuk kaum wanita, misalnya: “Wahai orang-orang wanita yang beriman”.

Dalam bahasa arab terdapat kaidah yang menyatakan bahwa seruan bagi kaum laki-laki sekaligus mencakup seruan bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan seruan bagi perempuan, tidak mencakup bagi laki-laki; ia terbatas hanya untuk kaum wanita saja. Atas dasar tersebut dapat dipahami bahwa seruan-seruan Allah SWT seperti: “Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan para pemimpin  (pejabat yang menerapkan Islam)  dari  kalangan  kamu”;

Walaupun kata-kata yang terdapat dalam firman Allah SWT di atas semuanya berbentuk mudzakkar (jenis laku-laki), akan tetapi seruan yang demikian telah disepakati bahwa ia juga mencakup bagi wanita.

Tentang peran wanita muslimah dalam mengemban dakwah Islam; sebenarnya aktifitas tersebut bukanlah perbuatan yang berdiri sendiri. Sehingga dakwah untuk kalangan wanita mempunyai sejumlah hukum syara’. Berikut ini hanya akan disebutkan sebagian saja dari hukum-hukum tersebut:

1.    Menuntut ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan berbagai urusan /perbuatan wanita ada lah wajib. Begitu pula dengan laki-laki terhadap perbuatan yang dikhususkan baginya.

2.    Aktifitas amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib bagi wanita, sama halnya bagi laki-laki, tetapi masing-masing melakukannya sesuai dengan kemampuannya.

3.    Mengoreksi tingkah laku penguasa merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang sifatnya wajib atas wanita dan laki-laki.

4.    Mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kaum  muslimin serta memerangi pemikiran-pemikiran kufur dan sesat, merupakan kewajiban atas kaum laki-laki dan wanita.

Berkaitan dengan hukum-hukum di atas terdapat sejumlah keadaan wanita yang berkaitan dengan hukum syara’ yang lain, misalnya:

(1)     Wanita tidak boleh keluar rumah, tanpa izin dari walinya sendiri. Misalnya, ayah, saudara laki-laki, suami, paman, dan sebagainya. Ketentuan ini membatasi gerak dakwahnya.

(2)    Apabila tidak disertai suami atau salah seorang muhrim dari keluarganya, maka wanita tidak boleh mendatangi tempat-tempat khusus [rumah, apartemen, dan sebagainya] yang di dalamnya terdapat laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Ketentuan ini juga membatasi gerak dakwahnya.

(3)    Apabila seorang wanita telah bergabung ke dalam suatu gerakan Islam dan pimpinan gerakan tersebut menyuruhnya melaksanakan suatu perintah, sementara walinya menyuruhnya dengan perintah yang lain, maka ia wajib menaati perintah walinya selama perintah itu bukan berupa maksiat yang nyata.

Secara pasti, kita mengetahui bahwa taat kepada pemimpin adalah wajib (sebatas wewenang kepemimpinannya). Pemimpin yang dimaksud di sini antara lain khalifah (kepala negara), pejabat pemerintah, pimpinan partai/organisasi Islam, dan sebagainya. Kita juga tahu bahwa taat kepada ayah dan suami adalah wajib. Semua itu berlaku dalam perkara bukan maksiat kepada Allah SWT. Apabila perintah ayah atau suami bertentangan dengan perintah amir/pemimpin, maka dalam hal seperti ini, mana yang harus ia patuhi?

Yang wajib dipatuhi adalah perintah ayah atau suami. Sebab, nash-nash Syara’ yang ada memang lebih menegaskan agar wanita taat kepada ayah atau suami daripada mentaati pemimpin suatu gerakan Islam.  Hadits-hadits Rasulullah saw tentang hal ini sangatlah jelas, seperti antara lain sabda beliau:

“Taat kepada Allah adalah sama halnya dengan taat kepada seorang ayah. Berbuat maksiat kepada Allah adalah sama halnya dengan berbuat maksiat kepada seorang ayah”.

Di antara aktifitas yang terpenting di dalam mengemban dakwah Islam   adalah   keterikatan  para  pengemban dakwah   dengan  hukum – hukumNya. Sesungguhnya keterikatan seperti itu, baik dari pihak laki-laki maupun wanita, adalah termasuk salah satu kegiatan dakwah untuk merealisasikan Islam. Dengan demikian, apabila seorang wanita berpakaian secara syar’i, perilakunya islami baik di dalam lingkungan keluarga maupun di dalam lingkungan masyarakat, bahkan membenci setiap kebiasaan orang Barat dan lainnya yang begitu nampak sekarang dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam, serta ia merasa bangga dengan ide-ide, hukum-hukum dan kebiasaan yang bernafaskan Islam pada saat ia menampilkan semua ciri Islam ini di dalam dirinya, maka sesungguhnya ia sudah menjadi seorang da’iyah (pengemban dakwah Islam) walaupun ia sendiri tidak merencanakannya. Oleh karena itu, perilaku yang baik adalah langkah awal dalam berdakwah kepada Islam, khususnya bagi wanita muslimah.

KH M. Al Khaththath : Partai Islam Jeblok, Tetap Semangat !

18/04/2009

ust-khaththath21Pemilu 2009 merupakan pemilu terburuk dalam catatan sejarah Umat Islam di Negara Republik Indonesia. Pasalnya, hasil perolehan suara sementara (baik quick count lembaga-suvfey maupun real count KPU) partai-partai Islam jeblok, lebih jelek dari perolehan pemilu-pemilu sebelumnya. Pada saat tulisan ini di buat (13 April 2009 pukul 17.53) rangking 1,2,3 di duduki Partai Demokrat (20,23%), Golkar (14,42%), PDIP (14,35%). Partai-partai Islam dan berbasis massa Islam menduduki rangking 4,5,6 dan 7, yakni PKS (8,45%), PAN (6,46%), PPP (5,56%), dan PKB (5,17%). PBB yang kelihatannya paling tampak mengusung syariah hanya menempati rangking 10 dan belum ada tanda-tanda lulus parliamentary threshold karena baru mencapai 1,904%. Sementara partai-partai Islam yang lain seperti PKNU, PBR, PNUI, dan PMB mendapatkan suara yang lebih kecil lagi. Tentu keadaan ini sangat menyedihkan. Apalagi ada komentar dari suatu media atas hasil pemilu yang memprihatinkan tersebut, bahwa ternyata partai-partai berbasis agama (tentu yang dimaksud khususnya partai Islam) ternyata tidak diminati pemilih. Dalam melihat fenomena hasil pemilu tersebut ada beberapa perspektif : Pertama, kelompok sekuler akan mendapatkan dalil bahwa semakin sekuler suatu partai, akan semakin diminati masyarakat. Tentu rekomendasi mereka agar partai-partai Islam bergeser ke tengah, maksudnya semakin sekuler. Kedua, kelompok golput yang memiliki persepsi bahwa pemilu haram karena berada dalam sistem demokrasi. Mereka mendapatkan dalil bahwa Islam tidak bisa dimenangkan melalui pemilu dan mustahil berjuang mengubah sistem Islam melalui parlemen. Rekomendasi mereka, tinggalkan pemilu, tegakkan syariat dengan dakwah dan jihad. Ketiga, kelompok yang memandang bahwa parlemen adalah tempat berjuang umat Islam untuk membela kepentingan Islam dan Umat Islam. Kelompok ini memandang sekalipun suara partai Islam turun, partai Islam tidak boleh keluar dari parlemen. Sebab, kalau tidak ada yang berjuang di sana, kepentingan umat Islam diabaikan!. Tentu saja ketiga kelompok di atas sah-sah saja menggunakan argumentasi masing-masing. namun dalam prespektif dakwah Islam, perlu ada pencerahan bahwa dakwah Islam itu wajib diemban oleh setiap muslim, terlebih kelompok, gerakan, ormas, dan parpol Islam. Dan dakwah itu mesti dilakukan di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Artinya, perlu ada strategi dakwah terpadu yang memetakan wilayah kerja dakwah. Sebut saja ada wilayah kerja dakwah perkotaan dan pedesaan, perkampusan, perkampungan dan lain-lain termasuk dakwah di dalam dan di luar parlemen. Juga perlu ada pembagian kerja yang jelas serta perlu ada komunikasi dan koordinasi antara aktivis dakwah di luar dengan para aktivis dakwah di dalam parlemen. Anggota parlemen yang punya fungsi utama membuat undang-undang (legislasi) dan mengawasi pemerintah (control) harus bekerja dalam kerangka dakwah untuk senantiasa memberikan penjelasan kepada seluruh anggota parlemen bahwa hak membuat hukum ada pada Allah SWT (QS. Al An’am 57) sehingga tugas parlemen adalah bersama presiden mengesahkan syari’at Allah sebagai undang-undang yang berlaku. Dalam hal ini mereka harus memiliki argumentasi yang kuat, baik yang sifatnya dalil naqli (Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas) untuk meyakinkan para anggota parlemen yang muslim, maupun dalil Aqli (berupa data dan logika) untuk meyakinkan para anggota parlemen yang tidak mempercayai dalil-dalil naqli di atas, baik yang non muslim maupun yang berpikir sekuler. Dalam melaksanakan fungsi pengawasan, para aktivis partai-partai Islam harus bekerja sungguh-sungguh untuk mengawasi dan mengoreksi pemerintah serta mengkritiknya atas ketidaksesuaian kebijakan pemerintah dengan syari’at Islam dan ketidak berpihakannya terhadap rakyat yang mayoritas umat Islam ini. Di sinilah akan teruji betul apakah para aktivis dakwah kita di dalam parlemen betul-betul memiliki kemampuan berdikusi dan berdebat dengan baik (QS. An Nahl 125), berbekal argumentasi yang kuat, baik dalil syar’i, maupun data-data dan kekuatan logika, serta memiliki kemampuan retorika yang unggul sehingga mampu menarik simpati para anggota parlemen yang lain, baik muslim maupun non muslim, untuk menyetujui dan berkomitmen mendukung pengesahan syariah sebagai UU. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan, bahwa partai-partai Islam memang harus di dukung oleh berbagai gerakan dakwah yang bergerak di luar parlemen dengan berbagai data dan informasi, baik yang bersifat ilmiyah, tsaqafiyah, maupun siyasiyyah, sehingga kerjasama yang baik dalam kerangka ukhuwwah Islamiyyah itu akan melahirkan kekuatan politik Islam yang riil, walau kursi mereka di parlemen sedikit. Jadi, biar perolehan suara jeblok, partai Islam harus tetap semangat berjuang lii’lai kalimatillah di dalam parlemen dan membuktikan bahwa hanya syariah solusi segala permasalahan bangsa. Wallahua’lam (MAK)

ReviewReviewReviewReviewReview KH Kholil Ridwan : Rekonstruksi Konsep Partai Islam

10/03/2009

fui10aDalam Al Quran, Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada al khair (Islam), menyuruh pada perkara ma’ruf dan mencegah dari perkara munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104).

Ayat ini menunjukkan pada 3 perkara. Pertama, sesungguhnya Allah SWT mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menegakkan sekelompok umat. Imam Ath Thabary memaknai kata ‘ummatun’ dalam ayat itu sebagai ‘jama’atun’ yang bermakna kelompok (Tafsir Ath Thabary, juz 4, hal. 38). Tugas kelompok ini adalah menyeru kepada Islam serta melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar (Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Quran, juz 4, hal. 27). Artinya, kelompok tersebut melakukan dakwah Islam baik dalam segi pemikiran maupun perbuatan.

Pernyataan ‘Hendaklah ada diantara kalian sekelompok umat (minkum ummatun)’ merupakan perintah dari Allah SWT untuk mendirikan jama’ah minal muslimin, yaitu jama’ah/kelompok dari sebagian kalangan kaum muslimin yang terorganisir rapi serta memiliki karakter benar-benar sebagai suatu jama’ah. Inilah makna ‘minkum’ dalam ayat tersebut. Imam Jalaluddin Muhammad dan Imam Jalaluddin Abdur Rahman menyebutkan dalam tafsirnya bahwa min dalam ayat ini adalah untuk sebagian (lit tab’idh). Sebab, menurutnya, perintah dalam ayat ini adalah fardlu kifayah yang tidak dapat dilakukan oleh setiap orang seperti orang yang kurang pengetahuannya (Tafsir Jalalain, juz 1, hal. 57).

Perkara kedua, jamaah yang dimaksudkan tadi adalah partai politik, yang tugasnya: menyerukan al khair dan amar ma’ruf nahi munkar. Imam Ibnu Katsir memaknai menyeru kepada al khair sebagai mengikuti Al Quran dan As Sunnah (Imam Ibnu Katsir, Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, juz 1, hal. 478). Sementara, Imam Jalaluddin mengartikan al khair dalam ayat tersebut dengan al Islam (Tafsir Jalalain, juz 1, hal. 57).
Dengan demikian, menyeru kepada al khair artinya menyeru atau mendakwahkan Islam secara keseluruhan. Sementara itu, memerintahkan perkara ma’ruf berarti memerintahkan segala perkara yang sesuai dengan Islam dan mencegah yang munkar berarti mencegah segala perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Jadi, Allah SWT dalam ayat tersebut mewajibkan kaum muslimin untuk memiliki kelompok-kelompok yang mengajak orang untuk menerapkan Islam secara keseluruhan dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, ayat itu memerintahkan adanya kelompok yang mengemban dakwah Islam dan melanjutkan kehidupan Islam, yakni memerangi hukum kufur beserta kekuasaannya dan mewujudkan hukum Islam beserta kekuasaannya.

Kelompok atau partai politik Islam dimaksud, karakternya adalah: (1) bermisi melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan syariat secara kafah dalam kehidupan, (2) menetapkan tujuan secara fokus, merinci strategi (thariqah) untuk mencapainya, mengadopsi hukum-hukum syara, pendapat dan pemikiran yang menjelaskan tentang institusi negara, strukturnya, sistem yang akan diberlakukannya (sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem sosial), dan hubungan antar bangsa dan negara.
Tugas partai politik dalam Islam adalah:
1. Membangun partai kader yang berkualitas, Islami dalam pola pikir maupun perilakunya.
2. Sosialisasi terus-menerus untuk menyiapkan umat agar turut serta membangun kehidupan Islam, sehingga nyambung dengan tujuan partai.
3. Melakukan pertarungan pemikiran (shira’ul fikriy). Membeberkan dan menentang kebobrokan pemikiran yang eksis sembari mengemukakan bagaimana konsep Islam.
4. Melakukan perjuangan politik (kifah siyasiy). Meraih kekuasaan dengan pendekatan pencerahan tanpa kekerasan, untuk menumbangkan institusi dan hukum kufur lalu mengubah dan menggantinya dengan hukum-hukum Islam.

Formulasi Strategi
Melalui analisis SWOT Partai Islam, direkomendasikan formulasi strategi partai mulai strategi induk hingga rancangan aplikasi program, sebagai berikut :

1. Visi: Menjadi Partai politik Islam yang amanah, profesional dan terpercaya.

2. Misi: Mempersiapkan kondisi masyarakat agar kondusif bagi kelanjutan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

3. Strategi Fungsional Utama: (1) Meningkatkan jumlah anggota; (2) Meningkatkan ragam anggota; (3) Meningkatkan kepuasan anggota; (4) Meningkatkan relasi dan pendukung; (5) Meningkatkan citra organisasi.

4. Strategi Fungsional Pendukung Operasi: (1) Meningkatkan kualitas SDM anggota; (2) Meningkatkan kehandalan data base partai; (4) Meningkatkan tertib administrasi & keuangan; (5) Meningkatkan kemampuan self assesment untuk kepentingan evaluasi & rekayasa ulang organisasi; (6) Meningkatkan citra organisasi.

Implementasi Program
1. Memahami ragam mad’u (obyek dakwah). Dakwah komunitas akan berhadapan dengan mad’u yang beragam, baik dari segi tingkat pemahaman keislaman maupun umur.
2. Memahami tujuan dakwah untuk tiap mad’u. Dakwah kepada mad’u umum lebih berbentuk sebagai syiar Islam, dengan tujuan untuk menciptakan mahabah (kecintaan) kepada Islam, sehingga mereka sedia menjadi musaa’idun (pendukung) dakwah Islam. Dakwah kepada mad’u khusus bertujuan untuk menciptakan kader-kader pengemban dakwah (hamalatud dakwah) yang teguh dalam pendirian, kuat aqidahnya, tinggi ilmu Islamnya dan mulia akh¬laqnya, serta giat dalam perjuangan Islam.
3. Model Aktivitas. Dakwah kepada mad’u umum dilakukan secara terbuka, dengan sajian kegiatan yang menar¬ik, ditata dengan apik, bertema aktual atau kontekstual tanpa meninggalkan kebenaran pesan, yang dibawakan oleh asatidz yang terkemuka, baik dari segi dien atau profesinya. Sementara dakwah kepada mad’u khusus, lebih praktis. Kegiatannya lebih spesifik mengarah ke pendalaman, bersifat lebih tertutup dengan peserta terbatas, yang dibawakan oleh asatidz yang tangguh ilmu dan kepribadiannya.
4. Prioritas. Dalam rangka dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam, dakwah harus menghasilkan kader.
5. Strategi dan taktik. Meliputi empat hal, yakni: pertama, untuk intern partai; kedua, dalam hubungannya dengan tokoh-tokoh masyarakat; ketiga, dalam hubungannya dengan elemen dakwah lain (termasuk pengurus masjid); keempat, dalam hubungannya dengan masyarakat umum. (mj/www.suara-islam.com)

MS Ka’ban: Partai Islam Bisa Menang Pemilu

10/03/2009

687362-10542724112007f1-ms-kaban1-ali1Banyaknya partai politik peserta pemilu 2009 yang mencapai 38 partai, menyebabkan kompetisi diantara mereka semakin ketat. Apalagi pemilu legislatif tinggal sebulan lagi, sehingga berbagai manufer politik semakin diperlihatkan para petinggi parpol.

Pasca pemilu 2009, partai besar sama mengalami perpecahan dimana Partai Golkar pecah menjadi Partai Hanura dan Partai Gerinda, PDI Perjuangan pecah menjadi Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), PKB pecah menjadi Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), sementara Partai Matahari Bangsa (PMB) lahir setelah para tokohnya mengalami keretakan dengan PAN.

Sekarang dalam menghadapi pemilu 2009, partai induk dan pecahannya saling berlomba untuk meraih simpati rakyat guna memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Berbagai dana, tenaga dan fikiran dikerahkan untuk mendapat kursi sebanyak-banyaknya. Sebanyak 560 kursi DPR RI diperebutkan hampir 12.000 caleg dari seluruh partai peserta pemilu.

Setelah lahirnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan nomor urut dan mengesahkan suara terbanyak, kini giliran kompetisi terjadi diantara internal partai. Padahal sebelumnya kompetisi hanya terjadi antar partai, tetapi sekarang justru diantara caleg satu partai saling berlomba untuk mengalahkan temannya dengan memperoleh suara sebanyak-banyaknya dari para konstituen.

Keputusan MK tersebut menyebabkan terjadinya “saling bunuh” diantara para caleg satu partai. Sebab siapa yang memperoleh suara lebih banyak dari caleg satu partainya, maka dialah yang berhak mendapatkan kursi legislatif. Padahal bagi yang gagal mendapatkan kursi legislatif, sesungguhnya mereka telah “berinvestasi” namun tidak akan memetik hasilnya. Dengan demikian, mereka berusaha sekuat tenaga meski dengan memakai teori maxiavelli dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kursi legislatif yang menjanjikan keuntungan finansial berlipat-lipat. Maka tidaklah mengherankan jika ada caleg yang mengaku di media massa sudah menghabiskan dana lebih dari Rp 2 miliar meski sekarang kampanye terbuka belum dilakukan. Tidak dapat dibayangkan berapa dana lagi yang akan dihabiskannya jika mulai dilakukan kampanye terbuka pada Maret ini, sementara pemilu akan diselenggarakan pada 9 April nanti.

Sementara itu menjelang pemilu legislatif, suhu politik semakin memanas. Para tokoh politik saling bermanufer untuk melemahkan lawannya demi keuntungan partainya. Meski pilpres baru akan digelar setelah pemilu legislatif, sejumlah tokoh politik sudah saling unjuk gigi untuk menjadi capres dan cawapres, meski kans untuk itu semakin ketat dan berat serta sulit karena semakin banyaknya pesaing yang potensial.

Untuk mencapai maksud tersebut, mereka sama berencana menggalang koalisi antar partai dan akan dimatangkan setelah pemilu legislatif, Sebab setelah itu baru akan diketahui hasilnya, apakah prosentase perolehan suaranya naik, tetap ataukah turun jika dibandingkan dengan pemilu 2004 lalu. Padahal pada pemilu 2009 ini, sebanyak 171 juta dari 230 juta rakyat Indonesia berhak memilih, suatu jumlah yang hanya bisa diungguli oleh pemilu di India dan AS. Maka tidaklah mengherankan jika Indonesia mendapat pengakuan sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah India dan AS.

Bagi yang prosentase suara partainya naik, tentu yang ingin mendekatinya semakin banyak dengan tujuan agar didukung pencalonannya sebagai capres dan cawapres. Namun biasanya parpol semacam ini sudah memiliki capres dan cawapres tersendiri. Sedangkan bagi yang tetap atau turun proesentase perolehan suaranya dari pemilu 2004, maka cukup menjadi pendukung capres dan cawapres partai lain tanpa memiliki capres dan cawapres dari kalangan internal partai. Pasalnya dalam pilpres, hanya partai atau gabungan partai yang memperoleh 20 persen kursi (112 kursi DPR) atau 25 persen total suara sah yang berhak mengajukan paket capres dan cawapres sendiri.

Memang baru PDI Perjuangan sebagai salah satu partai besar yang secara resmi telah memiliki capres yakni Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Sukarnoputri. Sementara partai besar seperti Partai Golkar dan partai menengah seperti PKB, PAN PPP dan PKS hingga sekarang belum secara resmi mengumumkan capresnya. Sementara partai baru yang telah mengumumkan capresnya hanyalah PMB dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sebagai capresnya. Sedangkan Hanura, Gerindra dan PKNU belum secara resmi mengumumkan capresnya.

Maka tidaklah mengherankan jika munculnya nama wapres Jusuf Kalla (JK) ke bursa capres semakin menarik perhatian. Pasalnya, meski sebagai Ketua Umum Partai Golkar, JK sudah cukup puas sebagai pendamping SBY sebagai cawapres. Namun setelah terjadinya insiden “Ahmad Mubarok”, maka para pendukung Partai Golkar tidak terima atas penghinaan dari salah seorang petinggi Partai Demokrat tersebut. Merasa sebagai partai besar, mereka bertekad mengusung JK sebagai capres untuk bersaing melawan SBY. Jika nantinya JK pecah kongsi dengan SBY dan secara resmi menjadi capres dari Partai Golkar, maka bursa capres akan semakin ketat, dimaka minimal akan terdapat tiga capres yakni SBY, JK dan Megawati. Tidak menutup kemungkinan pilpres akan diikuti oleh lima pasang capres-cawapres sebagaimana pilpres putaran pertama 2004 lalu. Jika itu sampai terjadi, maka akan terjadi pilpres putaran kedua yang menyedot uang rakyat lebih banyak lagi.

Sementara itu hingga saat ini bursa capres hanya diramaikan oleh capres dari partai nasionalis, sementara capres dari partai Islam atau partai berbasis massa Islam belum menjadi berita penting di media massa cetak maupun elektronik. Padahal kans untuk memenangkan pemilu legislatif dan pilpres dari partai Islam termasuk partai berbasis massa Islam cukup terbuka. Barangkali hal itu disebabkan karena belum digelarnya pemilu legislatif, sehingga belum diketahui hasilnya dengan pasti. Disamping itu partai Islam merasa kurang percaya diri untuk mencalokan tokohnya bersaing dengan capres dari partai nasionalis. Selain itu adanya pesanan dari sejumlah petinggi partai nasionalis kepada berbagai lembaga survei untuk memenangkan partainya seolah-olah selalu unggul dalam setiap survei, menyebabkan partai Islam merasa inverior atau rendah diri karena beranggapan tidak mungkin memenangkan pertarungan memperebutkan kursi RI-1.

Jika nantinya ternyata terbentuk koalisi besar diantara partai Islam pasca pemilu legislatif dan partai Islam berhasil memenangkan pilpres, maka itu menjadi sejarah penting bagi perkembangan partai Islam di Indonesia, Sebab baru kali ini dalam sejarah sejak pemilu pertama kali digelar tahun 1955, partai Islam berhasil menguasai pemerintahan dan parlemen. Padahal waktu itu perolehan gabungan suara Partai Islam Masyumi dan NU melebihi perolehan suara Partai Nasionalis PNI dan PKI, namun pemerintahan dan parlemen tetap dikuasai kekuatan nasionalis, sementara kekuatan politik Islam menjadi oposisi. Puncaknya perseteruan kedua kekuatan besar tersebut dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan disusul dengan pembubaran Partai Masyumi (1960) dengan tuduhan para tokohnya terlibat pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

Berikut ini wawancara Suara Islam dengan Menteri Kehutanan dan Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB), MS Ka’ban, seputar peluang partai Islam untuk memenangkan pemilu legislatif dan pilpres 2009.

Bagaimana menurut anda peluang partai Islam untuk memenangkan pemilu legislatif 2009 ?

Saya haqqul yaqin pada pemilu legislatif, perolehan suara partai Islam akan melebihi partai nasionalis dengan 50 persen lebih. Jika itu sampai terjadi, maka baru pertama kali terjadi sejak pemilu pertama tahun 1955. Memang selama ini terutama ketika masa Orde Baru, perolehan suara partai Islam selalu tidak lebih dari 20 persen. Baru dalam dua kali pemilu era reformasi, gabungan suara partai Islam termasuk partai berbasis massa Islam bisa lebih dari 40 persen, namun masih kurang dari partai nasionalis. Namun dalam pemilu nanti, suaranya akan naik secara signifikan hingga lebih dari 50 persen.

Mengapa selama ini perolahan suara partai Islam selalu lebih kecil daripada partai nasionalis ?

Hal itu disebabkan tidak adanya persatuan diantara para pemimpin partai Islam termasuk partai berbasis massa Islam. Padahal dari 38 partai peserta pemilu, partai Islam dan berbasis massa Islam hanya 8 partai selebihnya partai nasionalis. Logikanya, mereka akan lebih mudah dipersatukan dalam sebuah koalisi besar daripada partai nasionalis. Namun kenyataannya hingga sebulan menjelang pemilu legislatif, partai Islam masih sulit untuk dipersatukan dalam sebuah koalisi besar.

Selain itu para pemimpin partai Islam tidak ada yang mau mengalah untuk menunjuk rekannya menjadi pemimpin koalisi besar partai Islam. Mereka semuanya ingin tampil untuk menjadi pemimpin, bahkan kalau dapat dengan saling menjatuhkan saudaranya sendiri sesama pemimpin partai Islam. Mereka sedang menderita sindrom “kegenitan”, seolah-olah paling hebat dan paling pantas untuk menjadi pemimpin daripada lainnya.

Mungkinkah terjadi koalisi besar partai Islam pasca pemilu legislatif ?

Mungkin saja terjadi meski butuh perjuangan berat. Jika sampai terjadi, maka suara koalisi besar partai Islam akan melebihi suara partai nasionalis. Tetapi dengan kondisi perpecahan diantara partai Islam sekarang, rasanya cukup berat koalisi besar itu diwujudkan.

Kalau partai Islam sedang mengalami perpecahan, apakah partai nasionalis juga mengalami perpecahan ?

Partai nasionalis tidak terlepas dari perpecahan bahkan lebih parah, tidak hanya antar partai nasionalis bahkan di internal partai sendiri. Seperti Partai Golkar saat ini terdapat 4 faksi yakni Faksi Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Surya Paloh dan Agung Laksono. Faksi Surya Paloh paling getol mengkampanyekan koalisi dengan PDIP. Jika itu sampai terjadi dan mereka memimpin pemerintahan, saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib negara ini ke depannya. Pasalnya, kedua partai pernah berpengalaman memimpin pemerintahan dan tidak menjadikan negara lebih baik malah semakin terpuruk. Saya ibaratkan, mengatasi satu Jin Ifrit saja sulitnya luar biasa, apalagi jika ada dua Jin Ifrit.

Apakah pemilu 2009 ini akan menjadi momentum bagi partai Islam untuk memimpin negara ?

Meski saya haqqul yaqin partai Islam akan memenangkan pemilu 2009, tetapi untuk saat ini belum waktunya para pemimpin partai Islam untuk memimpin negara. Para pemimpin partai Islam yang mayoritas masih muda, barangkali mereka baru akan tampil memimpin negara pasca 2014 nanti, dimana generasi tua seperti SBY, Megawati dan JK mulai lengser dari kepemimpinan nasional. Saat itulah para pemimpin partai Islam yang mayorits masih muda harus tampil untuk memimpin negara menuju baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, negara adil makmur sejahtera dibawah lindungan Allah Swt.

Menurut anda, kira-kira siapa tokoh masa depan dari kalangan partai Islam yang pantas memimpin negara ini ?

Saya kira Yusril Ihza Mahendra cukup pantas untuk memimpin negara karena pengalaman politik dan kenegarawannya. Padahal pasca menjabat Mensesneg, Yusril pernah ditawari SBY untuk menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), namun menolaknya. Saya sendiri tidak mengetahui mengapa dia menolak tawaran SBY tersebut. Seandainya diterima, Yusril akan semakin mudah untuk menjadi pemimpin bangsa tahun 2014 nanti. Selain itu Ketua MPR Hidayat Nurwahid juga pantas untuk memimpin negara. Adapun sekarang Hidayat terlihat lebih menonjol daripada Yusril karena memiliki jabatan sebagai Ketua MPR, sedangkan Yusril sudah tidak lagi memegang jabatan. Seandainya Yusril masih memegang jabatan di pemerintahan, maka Yusril akan lebih menonjol daripada Hidayat.

Menurut anda, sebaiknya JK mencalonkan diri menjadi capres ataukah tetap mendampingi SBY sebagai cawapres ?

Saya yakin sebenarnya JK tidak ingin maju sebagai capres dan tetap menjadi pendamping SBY sebagai cawapres. Namun karena JK termakan provokasi dari tokoh Partai Golkar lainnya pasca insiden “Ahmad Mubarok”, maka JK terbawa emosinya dan berubah fikiran ingin maju sebagai capres untuk bersaing dengan SBY. Padahal kans pasangan SBY-JK paling besar untuk memenangkan pilpres 2009 daripada pasangan capres dan cawapres lainnya.

Secara politik bisa jadi para lawan SBY berusaha sekuat tenaga memecah persatuan SBY-JK agar keduanya saling berhadapan dalam pilpres. Sebab kalau keduanya masih bersatu, maka sangatlah sulit untuk mengalahkannya. Maka satu-satunya jalan adalah memprovokasi JK agar pecah kongsi dengan SBY, sehingga peluangnya untuk mengalahkan SBY dalam pilpres semakin besar jika ditinggalkan JK. Namun semuanya ini terserah pada JK, apakah akan maju sebagai cawapres ataukah tetap bergabung dengan SBY sebagai cawapres yang memiliki kans kuat untuk memenangkan pilpres 2009. Saya kira jika JK nekat maju sebagai capres, maka peluangnya untuk memenangkan pilpres sangatlah kecil, siapapun cawapresnya. Saya menyarankan agar JK sholat istikharoh terlebih dahulu sebelum memutuskan maju sebagai capres dari Partai Golkar. (mj/www.suara-islam.com)

KH. Muhammad Al Khaththath : MENELADANI RASULULLAH SAW

06/03/2009

ust-khaththath21Thursday, 05 March 2009

Bulan ini adalah bulan Rabiul Awwal. Bulan dimana kaum muslmin umumnya memperingatinya dengan meriah. Tentu saja yang paling penting dari acara-acara tersebut adalah bagaimana kita mendapatkan pelajaran berharga dari Beliau Saw yang merupakan panutan kita.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab [33]: 21)

Rasulullah saw merupakan orang yang paling memahami arti hidup dan kehidupan ini dengan sebenar-benarnya. Beliau adalah orang yang paling tahu bahwa ad dunya mazra’atul aakhirah: dunia adalah ladang untuk (memanen buah di) akhirat.

Beliaulah yang disuruh Allah merengkuh sebesar-besar karunia Allah di negeri akhirat tanpa melupakan kenikmatan dunia (Lihat QS. Al Qashash [28]: 77). Tatkala Abu Dzar melihat beliau tidur di atas tikar kasar hingga mencap kulit beliau dan mengatakan: Kenapakah engkau begitu wahai Rasul? Bukankah dunia di bawah kekuasaanmu? Beliau bersabda: Apa artinya dunia bagiku. Aku dan dunia itu tak lain bagaikan penunggang kuda yang berhenti di bawah pohon, beristirahat, lalu berangkat meninggalkannya.

Tatkala Aisyah menyampaikan bahwa domba Rasulullah Saw yang dipotong telah habis dibagikan kecuali tinggal tulang belikatnya. Beliau justru mengatakan:“Semua masih tetap tersisa (menjadi pahala di akhirat) kecuali tulang belikatnya”.

Beliau Saw adalah orang yang telah meraih kekuasaan dunia dengan hak dan secara riil kekuasaan yang beliau miliki sungguh sangat besar. Beliau Saw adalah kepala negara dari satu komunitas masyarakat baru, masyarakat Islam, yang telah bangkit dan muncul dari suatu masyarakat jahiliyyah di Jazirah Arab yang sekarang merupakan luasan wilayah yang dihuni oleh banyak negara, yakni Arab Saudi, Yaman, Qatar, Oman, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Bahkan beliau menjadi pemimpin dan penguasa yang siap tampil untuk menebarkan keadilan dan kesejahteraan ke seluruh dunia, rahmatan lil ‘alamin. Masyarakat yang dinamis dan enerjik dengan mabda (ideologi) yang di milikinya dan syakhshiyyah Islamiyyah (kepribadian Islam) yang unggulan, yang merupakan produk terbaik dari umat manusia, khairu ummah. Beliau adalah pelopor revolusi perbaikan kemanusiaan.

Sekalipun demikian beliau adalah pelopor hamba Allah yang senantiasa bersusah payah berjuang menggapai akhirat. Beliau adalah orang yang paling tahan berdiri berjam-jam untuk ruku’ dan sujud kepada Allah SWT manakala shalat malam. Pantaslah kalau untuk shalat saja kaki beliau sampai bengkak-bengkak.

Rasulullah saw. selalu membagi harta buat fakir miskin, menyantuni para janda dan anak yatim yang bapaknya gugur dalam jihad fi sabilillah. Pernah suatu kali beliau selelesai mengucap salam dalam shalat langsung berdiri keluar dari jama’ah kaum muslimin yang habis menunaikan shalat, Beliau langsung pergi membagikan harta baitul mal yang tersisa kepada yang berhak pada malam itu juga.

Beliau hidup sederhana dan para istrinya pun harus rela hidup sederhana sebagai istri seorang Rasul, kepala negara, pemimpin besar. Namun bukan berarti beliau menolak rizki yang halal. Beliau juga siap menikmati bagian kambing yang diperoleh 30 sahabat yang telah mengobati seorang kepala suku dengan membacakan Al Fatihah. Beliau juga menerima hadiah-hadiah yang diberikan para raja atau kepala suku kepada beliau. Beliau pun menggunakan baju purdah merah ketika menghadiri sholat hari raya.

Rasulullah Saw adalah orang yang sangat ramah kepada sesama muslim. Beliau bersabda:“Senyum anda di depan saudara anda (seiman) adalah shadaqah”. Apabila marah, beliau hanya memalingkan muka tidak mau melihat orang yang dimarahinya. Beliau tidak bersikap kasar kepada sesama kaum muslimin. Beliau faham betul petunjuk Allah kepadanya sebagai Rasul sekaligus pemimpin, kepala negara, sebagaimana firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekira¬nya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling¬mu”. (QS. Ali Imran [03]: 159).

Namun beliau bersikap keras dan tegas terhadap segala bentuk kekafiran yang disodorkan orang-orang kafir.

Beliau Saw adalah kepala negara yang juga panglima perang. Dalam sejarah pemerintahan Beliau Saw selama kurang lebih 10 tahun, dan negara yang baru dibangun dan dibina itu selalu menghadapi bahaya ancaman dari musuh-musuh Islam yang selalu ingin mengembalikan kaum muslim kepada kekufuran, kemusyrikan, dan kejahiliyahan.

Beliau sendiri secara langsung memimpin beberapa peperangan yang dialami kaum muslimin dan mengutus pasukan untuk berjuang dan berpatroli. Jadi kehidupan beliau tidak lain adalah perjuangan menegakkan kalimat Allah dengan dakwah dan jihad fi sabilillah.

Rasulullah Saw adalah pembawa risalah Islam. Dari mulut dan tingkah laku beliaulah lewatnya wahyu yang diturunkan dari langit buat petunjuk hidup manusia. Beliaulah yang membacakan Al Qur’an, mensucikan kaum muslimin, dan mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kaum muslimin.

Beliaulah sumber ajaran agama ini, baik Al Qur’an maupun As Sunnah. Selain sebagai pembawa risalah, beliau juga diutus menjadi penguasa yang menerapkan risalah itu dalam realitas kehidupan, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tak satu hukum Islam pun beliau sembunyikan dan tak satu hukum Islam pun yang tak beliau terapkan.

Beliau adalah penguasa yang cakap dalam memerintah, menunjuk para pejabat yang mahir dan tepat dalam tugasnya: the right man on the right place. Beliau tidak menunjuk orang yang salah. Bahkan tatkala Abu Dzar Al Ghifari minta suatu jabatan pemerintahan, beliau menolaknya dengan berkata:“Aku lihat anda seorang yang lemah sedangkan jabatan ini adalah amanah yang bisa menyebabkan kehinaan sesalan di akhirat kelak –jika tak dilaksanakan dengan baik”

Rasulullah Saw adalah kepala negara yang selalu menghormati perjanjian (‘ahdun/agreement). Sekalipun tampaknya perjanjian itu merugikan kaum muslimin, tetapi jika suatu perjanjian—yang dibolehkan oleh syara’—telah beliau tanda-tangani, maka beliau saw. konsisten dengan perjanjiannya. Oleh karena itu, tatkala Abu Jandal melarikan diri dari kota Makkah hijrah ke kota Madinah, padahal perjanjian Hudaibiyyah telah ditandatangani, maka beliau menyuruh Abu Jandal untuk kembali ke kota Makkah, tidak beliau terima berdiam di kota Madinah. Dengan sedih beliau saw. menyuruh kembali seorang muslim yang baru bebas dari kezhaliman orang-orang Quraisy.

Beliau Saw juga ahli dalam perdagangan. Setelah berhijrah ke Madinah beliau segera membangun masjid yang menjadi sentral bagi kegiatan kaum muslimin. Beliau saw. membuat perjanjian antara komunitas masyarakat kaum muslimin yang solid itu dengan komunitas lain yang ada di sekitarnya, yakni empat suku Yahudi yang memiliki sistem tersendiri.

Rasulullahpun kemudian mendirikan pasar bagi kaum muslimin di pintu masuk kota Madinah. Karena letaknya yang begitu strategis maka pasar itu segera ramai oleh kafilah-kafilah dagang dari berbagai negeri. Sampai kemudian kaum muslimin mampu menggusur peran ekonomi yang waktu itu di¬kendalikan orang-orang Yahudi.
Apa yang diungkapkan di sini mengenai kepribadian Rasulullah Saw hanyalah sebagian kecil dari lautan kepribadian yang dimiliki oleh Rasulullah Saw sebagai manusia terbaik. Tentu masih banyak lagi contoh-contoh karakter kepribadian Rasulullah Saw yang bisa kita ambil guna membangun kepribadian individu-individu umat yang tangguh. Baarakallahu lii walakum (MAK)

M. Al Khaththath : FUI Serukan Partai Islam Kampanye Syariat Islam

27/02/2009

mak-kpu Thursday, 26 February 2009

Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath yang hadir dalam acara Sosialisasi Pemilu oleh Ketua KPU kepada para tokoh agama di Jakarta (26/2) menyampaikan bahwa berdasarkan Fatwa MUI umat Islam WAJIB memilih calon pemimpin/wakil rakyat yang beriman, bertaqwa, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Sebaliknya, HARAM memilih calon pemimpin/wakil rakyat yang tidak beriman, tidak bertaqwa, tidak shiddiq, tidak amanah, tidak tabligh, tidak fathonah, dan tidak memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Selesai acara itu, pria yang juga Ketua Umum Hizb Dakwah Islam (HDI) itu menegaskan bahwa dalam pemilu 2009 ini FUI mendorong  partai-partai Islam dan berbasis massa Islam serta caleg-caleg muslim untuk menyesuaikan diri dengan fatwa MUI. Yakni, menyampaikan program-program kampanye syariah, seperti bubarkan Ahmadiyah, legislasi syariat Islam, dan mengamandemen UU yang tidak sesuai dengan syariah misalnya UU Sumber Daya Air, UU Migas, UU Penanaman Modal.

Bahkan FUI siap mendukung Partai-partai Islam berkoalisi sejak kampanye  dengan melakukan kampanye bersama mengusung syariah sehingga dengan kampanye bersama itu Partai-partai Islam bisa meraup suara besar, syukur-syukur bisa lebih dari 50% atau paling tidak masing-masing lolos dalam parlemen treshold (2,5%).

Ketika ditanya apa hal itu memungkinkan? Khaththath menjawab, ”Kenapa tidak?  Koalisi itu dilakukan atas dasar ta’aawun alal birri wat taqwa  (tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan) sambil mengutip suatu ayat al Quran”. Semoga seruan FUI ini jadi kenyataan! (lim/mj/www.suara-islam.com).

Wahiduddin (DPP HTI) : HTI Tolak Golput

27/02/2009

whThursday, 26 February 2009

Adanya rumor santer selama ini yang mengatakan bahwa para pemimpin Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menganjurkan massanya untuk tidak memilih dalam pemilu 2009 alias golput ternyata tidak benar. Rumor tersebut dibantah salah seorang petinggi DPP-HTI, M. Wahiduddin. Kepada Suara Islam On line yang menemuinya seusai dialog antara pimpinan Komisi Peilihan Umum (KPU) dengan para tokoh Agama di Hotel Nikko, Jakarta (26/2), Wahid menegaskan HTI tidak pernah menganjurkan massanya untuk menjadi golput, tetapi justru menganjurkan untuk memilih dalam pemilu nanti. “HTI tidak pernah menganjurkan golput. HTI membebaskan massa dan simpatisannya untuk memilih partai manapun sesuai dengan aspirasi politiknya. HTI tidak pernah menginstruksikan anggotanya untuk memilih partai tertentu alias netral dalam pemilu,” ujar Wahid. Keberadaan organisasi Islam internasional yang dikenal anti demokrasi alias anti parlemen ini memang selalu dicurigai sebagai biang golput. Namun kehadiran Wahidudin sebagai wakil DPP-HTI dalam sosialisasi untuk mensukseskan pemilu itu kiranya menghilangkan kecurigaan tersebut. Ini nampak dari pernyataan Anggota KPU Endang Sulastri yang mengawali sosialisasi itu sebelum Ketua KPU yang antara lain menyebut bahwa salah satu alasan golput adalah demokrasi tidak sesuai dengan ajaran agama. Sosialisasi Pemilu kepada para tokoh agama yang pertama kali dilakukan oleh KPU itu dipimpin langsung oleh Ketua KPU Abdul Hafizh Anshari dan dihadiri oleh para tokoh antara lain Aisyah Amini (MUI), Muhammad Al Khaththath Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Ramlan Marjoned (DDII), Agusdin (KISDI), Abdus Somad Ngile (Al Irsyad), Fikri Bareno (Al Ittihadiyah), dan Masdar Mas’udi dari PBNU. Juga hadir tokoh-tokoh agama dari PGI, Matakin, dan lain-lain. (lim/mj/www.suara-islam.com)

KH. Ma’ruf Amin: “Kembalikan Kepercayaan Umat Pada Parpol Islam”

20/02/2009

maarufThursday, 19 February 2009

Menghadapi pemilu 2009, mayoritas umat Islam kelihatan apatis terhadap partai Islam. Banyak faktor yang menyebakan hal tersebut. Di antaranya faktor internal partai Islam. Fenomena partai Islam yang justru bergerak meninggalkan Islam menuju ke arah moderat bahkan sekuler adalah salah satunya. Seharusnya parpol Islam menjadikan Islam sebagai dasar, sumber inspirasi dan landasan berfikir partainya. Demikian dikatakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin dalam acara Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) Ke-45 di Jakarta, Rabu (18/2). Menurut Kiyai Ma’ruf, saat ini umat Islam sudah harus mengembalikan kepercayaan kepada parpol Islam. Ini harus dilakukan agar parpol Islam dapat memenangkan pemilu. Pasalnya, mayoritas penduduk indonesia adalah umat Islam. Caranya, parpol Islam harus kembali memperjuangkan Islam. Sebab berbagai problem bangsa seperti ekonomi yang kapitalistik dan politik sekuler hanya bisa diselesaikan dengan solusi Islam. Meski demikian, Ketua Dewan Musytasar PKNU tersebut juga menyadari bahwa parpol Islam juga mengalami hambatan dan tantangan yang besar. ”Ada partai Islam yang lari. Ini bukan mengubah, tapi terubah”, cetusnya ketika menanggapi adanya parpol Islam yang makin moderat. Selain itu juga masih melakatnya persepsi-persepsi yang salah di tengah masyarakat tentang Islam dan politik. ”Orde Baru telah menciptakan persepsi di masyarakat bahwa politik tidak ada hubungannya dengan agama. Islam yes, parpol Islam no, bahkan parpol Islam dihapus. Kiyai jangan ikut-ikutan politik. Isu politisasi agama. Agama bukan alat politik. Ini adalah persepsi-persepsi keliru di masyarakat”, papar Kiyai Ma’ruf. Persepsi inilah yang harus dihilangkan. Karena itu, ”Parpol Islam harus membangun soliditas” lanjutnya. (shodiq ramadhan/mj/www.suara-islam.com)

Ahmad Sumargono: Pemilu 2009, PBB Tetap Usung syari’at Islam

19/02/2009

gogon Wednesday, 18 February 2009

“Pemilu 2009 Partai Bulan Bintang (PBB) tetap akan mengusung agenda penerapan sya’riat islam” ungkap Ahmad Sumargono ketua DPW PBB DKI Jakarta ini saat ditemui oleh wartawan pasca acara Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) ke-45 di Gedung Intiland Tower, Jakarta(18/2).

Menurutnya PBB sudah siap menerima segala resiko perjuangan jika syariat islam yang diusung dianggap tidak menjual pada pemilu 2009. Beliau juga menyayangkan ada oknum dari partai islam yang menyatakan bahwa syari’at islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.

Syari’at islam justru seharusnya menjadi inspirasi dalam setiap pengambilan kebijakan, pengambilan keputusan dan sangat mungkin dapat menyelesaikan masalah keumatan dan kebangsaan yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia, tegasnya.

PBB juga akan tetap istiqomah dalam menjaga khitah perjuangannya sebagai partai kanan yang berbasis islam. (mj/www.suara-islam.com)

Sayyid Hasan Nasrullah: Tak Mungkin Berdamai Dengan Israel

19/02/2009

hasan-nasrallah Monday, 16 February 2009

Sekjen Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah), Sayyid Hasan Nasrullah menekankan, segala bentuk perdamaian Arab dengan Rezim Zionis Israel malah membuat rezim ini kian berani menekan umat Islam.

Sayyid Hasan kemarin (Senin 16/2) bertepatan dengan peringatan hari syuhada pejuang Hizbullah mengatakan, pengalaman masa lalu membuktikan bahwa pasca perjanjian damai dengan Israel, rezim ini malah meningkatkan aksi brutalnya terhadap umat Islam. Ditambahkannya, berdamai dengan Israel artinya kita memberikan kewenangan kepada Tel Aviv dengan imbalan rezim ini bersedia mengembalikan sedikit tanah kita yang mereka caplok.

Sekjen Hizbullah menekankan, muqamawa Lebanon berhak memiliki senjata termasuk anti-udara untuk menghadapi serangan musuh. Dalam bagian lain pidatonya, Sayyid Hasan menyatakan, “Kita tidak membutuhkan penjelasan lebih terhadap tekad kita sebelumnya untuk menuntut balas darah syahid Imad Mugniyah”. Menyinggung kian dekatnya pemilu di Lebanon, Sayyid Hasan menghimbau segenap kubu untuk andil karena pemilu ini sangat menentukan masa depan Lebanon. (mj/ir/www.suara-islam.com)

KH M. Al Khaththath: Sosialisasi Fatwa Golput

14/02/2009

ust-khaththath21 Thursday, 12 February 2009

Sebagaimana kita ikuti dalam berbagai berita dan talkshow di media massa, telah terjadi wacana dan perdebatan atas fatwa MUI tentang tidak memilih di dalam Pemilu alias Golput. Satu hal yang perlu kita cermati dalam berbagai wacana dan perdebatan tersebut adalah adanya pembiasan informasi atau mungkin kesalahan komunikasi sehingga umumnya publik menangkap bahwa seolah-olah MUI mengeluarkan fatwa Golput Haram secara mutlak.

Padahal, isi fatwa tersebut tidaklah demikian. Oleh karena itu, perlu sosialisasi fatwa MUI tersebut secara langsung oleh para ulama dan para muballigh dan siapa saja yang masih ingin berpegang teguh kepada agama Allah dalam menjalani kehidupannya.

Pertama, poin empat dari fatwa tersebut berbunyi: Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib.

Poin ini justru tidak terekspos dengan baik di media massa sehingga tidak menjadi opini umum yang ditangkap oleh publik. Padahal poin inilah yang justru diperlukan umat sebagai petunjuk untuk memilih calon presiden (calon Imam/kepala negara) dan calon wakil rakyat.

Artinya, menurut fatwa MUI tersebut, umat Islam dalam pemilu nanti wajib memilih calon Imam dan wakil rakyat yang memiliki karakteristik: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Dalam pandangan syariat Islam, melaksanakan hukum wajib berarti pelakunya dipuji dan diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Sebaliknya, yang tidak melaksanakan kewajiban itu tercela, berdosa, dan akan mendapatkan balasan siksa Allah SWT. Na’udzubillahi mindzalik!

Oleh karena itu, poin mewajibkan umat Islam memilih calon Imam dan wakil rakyat dengan kriteria di atas itu tidaklah main-main. Tentu harus dengan dasar yang kuat. Dalam fatwa MUI tersebut disebutkan antara lain dasar penetapan fatwanya dengan firman Allah SWT:

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa 59).

Perintah Allah SWT mewajibkan kita taat kepada Ulil Amri dalam ayat di atas mengandung pengertian kewajiban untuk mengangkat ulil amri yang wajib ditaati itu. Sebab, kalau mengangkat ulil amri tidak wajib, maka keberadaan ulil amri itu tidak wajib pula. Dan bila ulil amri itu tidak wajib adanya, artinya bila boleh saja umat Islam tidak punya ulil amri, maka perintah Allah yang mewajibkan taat kepada ulil amri menjadi tidak bisa diamalkan. Ini tentu tidak bisa dibenarkan.

Oleh karena itu, dipastikan bahwa umat Islam wajib memilih atau mengangkat ulil amri yang bertugas dan bertanggung jawab mengurus urusan kaum muslimin. Dan ulil amri yang diangkat kaum muslimin itu wajib menerapkan hukum syariah dengan standar kebenaran Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. sehingga bilamana dalam pelaksanaan hukum Allah SWT dalam pemerintahannya ada perselisihan antara ulil amri dengan rakyat, maka diselesaikan di depan mahkamah yang akan mengatasi persoalan dengan merujuk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang ada dalam Al Quran dan Sunnah.

Ulil Amri yang wajib dipilih dan diangkat oleh kaum muslimin adalah ulil Amri yang beriman dan bertqwa, yakni yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pemerintahannya. Oleh karena itu, tepat sekali Ijtima Ulama MUI di Padang Panjang mencantumkan -sebagai dasar penetapan fatwa- pernyataan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar pada saat pengangkatan mereka sebagai Khalifah yang berkuasa atas kaum muslimin.

Khalifah Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai sekalian manusia, jika aku dalam kebaikan maka bantulah aku, dan jika aku buruk maka ingatkanlah aku… taatilah aku selagi aku menyuruh kalian taat kepada Allah, dan jika memerintahkan kemaksiatan maka jangan taati aku”. Pidato Khalifah Umar r.a.:“Barangsiapa diantara kalian melihat aku dalam ketidaklurusan, maka luruskanlah aku…”.

Kedua, butir lima dari fatwa MUI tersebut adalah: Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram.

Butir ini juga tidak terkomunikasi dengan baik melalui media massa. Seolah-olah di media massa diopinikan bahwa tidak memilih alias golput secara mutlak adalah haram. Padahal yang diharamkan dalam butir ini adalah bila tidak memilih sama sekali alias golput padahal ada calon yang memenuhi syarat-syarat nomor empat yang sudah diterangkan di atas. Lebih dari itu, justru yang diharamkan bagi setiap muslim adalah memilih calon Imam dan wakil rakyat yang tidak memenuhi kriteria dalam poin empat di atas.

Jadi dalam pemilu legislatif maupun pilpres nanti setiap muslim yang dirinya masih punya iman dan hatinya terikat dengan ajaran agama Islam yang dianutnya HARUS HATI-HATI JANGAN SAMPAI MEMILIH CAPRES DAN CALEG yang tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

Kiranya tepat sekali dasar penetapan poin ini merujuk kepada hadits Nabi saw:

“Dari Abdullah bin Amr bin ‘Auf al-Muzani, dari ayahnya, dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda:“Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”. (HR At-Tirmidzi).

Artinya, umat Islam harus waspada terhadap caleg-caleg maupun capres-capres yang disinyalir akan melahirkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Yakni, caleg-caleg sekuler yang abai bahkan menentang diformalisasikannya syariat Allah SWT sebagai konstitusi, undang-undang, dan hukum yang berlaku di negeri ini.

Dengan demikian tegaslah bahwa Fatwa MUI tentang memilih dalam Pemilu itu adalah : (1) WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. (2) HARAM BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

Fatwa tersebut selain mengikat umat Islam dalam memilih, juga mengikat para capres dan caleg muslim agar menyesuaikan dirinya dengan kriteria tersebut bila ingin dipilih oleh oleh umat Islam.

Terakhir, kami memberikan peringatan kepada kaum muslimin dan diri kami sendiri, dalam urusan memilih dan mengangkat pemimpin ini, janganlah kita termasuk orang yang berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin lantaran salah pilih atau memilih secara asal-asalan, atau memilih karena dorongan hawa nafsu dan tergoda bujuk rayu dengan sedikit urusan dunia. Renungkanlah sabda baginda Rasulullah saw.:

“Barangsiapa memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang lain yang lebih pantas untuk dijadikan pemimpin dan lebih faham terhadap kitab Allah dan sunnah RasulNya, maka ia telah menghianati Allah, RasulNya, dan semua orang beriman”. (HR. At-Thabrani). (mj/www.suara-islam.com)

Erma Pawitasari, M. Ed : KURIKULUM NASIONAL vs KURIKULUM AS

09/02/2009

berama-okThursday, 05 February 2009

Diasuh oleh: Erma Pawitasari, M. Ed

Assalamu’alaikum wr wb,
Saya senang sekali membaca Suara Islam yang menampilkan profil Bu Erma karena saya menemukan muslimah yang jarang ada padahal kehadirannya sangat diperlukan umat Islam.

Jika berkenan, saya ingin tahu pendekatan seperti apa yang Ibu gunakan dalam mendidik siswa-siswi Ibu di sekolah.

Saya juga penasaran tentang pendidikan yang Ibu ambil di Boston. Setelah Ibu menyelesaikan kuliah di sana, kemudian mengajar di sini (tanah air), apa kira-kira pendapat ibu mengenai kurikulum pendidikan di tanah air kita ini?

Saya juga sering berpikir soal kurikulum yang sebagiannya tidak jelas targetnya, diulang-ulang di setiap jenjang pendidikan dan tidak tepat sasaran untuk anak-anak.

Semoga Allah senantiasa membantu Bu Erma menjalankan aktivitas sehari-hari dan memajukan pendidikan di Indonesia. Amien.

Wassalamu’alaikum wr wb,
Rina, Depok

Wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakaatuh,

Terima kasih atas doa Bu Rina. Saya juga senang berkenalan dengan Bu Rina.

Menjawab pertanyaan Ibu yang pertama, saya menggunakan pendekatan personal. Salah satu cara saya adalah berkomunikasi via jurnal. Di setiap pertemuan, anak-anak menyerahkan jurnal berisi apapun yang ingin mereka ceritakan. Beberapa manfaatnya:saya bisa menyelami kebutuhan dan perasaan mereka, mereka memiliki tempat curhat, mereka bisa mengasah Bahasa Inggrisnya dan berlatih mengeluarkan pikiran melalui tulisan.

Memang pelaksanaannya cukup berat ya, Bu, karena saya harus membaca dan menulis balik kepada mereka tetapi alhamdulillah hasilnya cukup baik. Murid-murid saya meminta nasehat tentang keluarganya, pacarnya, teman-temannya dan saya jawab berdasarkan Islam. Respon mereka cukup positif; mereka makin terbuka dan perilakunya pun membaik.

Mengenai kurikulum sekolah, ada beberapa perbedaan antara AS dengan Indonesia. Saya sempat mengajar di AS mulai tingkat SD hingga SMA, mulai guru pendamping hingga guru kelas. Salah satu perbedaan yang saya amati terletak pada jumlah pelajaran. Untuk tingkat SD, penekanan diberikan kepada matematika dan bahasa Inggris. Porsi sains dan ilmu sosial cukup sedikit. Tidak ada pelajaran moral. Wow, tentu buruk ya jika anak-anak tidak belajar moral.

Percaya atau tidak, dalam batasan moral yang umum, anak-anak Amerika bisa dibilang lebih beradab. Mereka tidak sembarangan dalam meludah, membuang sampah, maupun kencing. Ketika kami baru pulang ke Indonesia, anak saya shok berat melihat orang-orang Indonesia seenaknya buang sampah, meludah, dan kencing di pinggir jalan.

Nah, kok bisa ya sementara tidak ada pelajaran moral? Jawabannya sederhana sekali. Buku bahasanya sangat bermutu dan ideologis. Di dalamnya, siswa belajar tentang ilmu sosial, sains, moral, sejarah, tata kota, tata negara, bahkan tata dunia. Semuanya disajikan berdasarkan nilai ideologi mereka. Penekanannya bukan “spelling” atau “grammar” tetapi pembentukan pola pikir.

Kalau saya bandingkan dengan isi buku bahasa kita, waduh… saya prihatin sekali! Miskin ilmu dan miskin karakter. Bacaannya sebatas “Ibu Budi pergi ke pasar.” Bagus kalau kemudian bercerita tentang pasar tertentu, letaknya, sejarahnya, kehidupan para pedagangnya yang berjuang untuk hidup secara Islam di tengah himpitan ekonomi. Dengan begitu, di samping belajar berbahasa, anak-anak kita juga mulai terbentuk pola pikir Islami. Tetapi ini kan tidak. Buku malah membahas suara kucing meong-meong, suara anjing guk-guk-guk, prang bunyi gelas pecah (padahal kalau jatuhnya di karpet mungkin “duk” lebih tepat ya).

Padahal informasi ini bisa diberikan dalam bentuk cerita berhikmah Islam. Misalnya cerita tentang Ihsan yang tetangganya memelihara anjing. Bagaimana Ihsan harus bersikap sebagai muslim, bagaimana dia mencuci diri ketika terjilat anjing tetangga. Konfliknya tentu bisa dibuat lebih seru seperti Ihsan menuduh anjing tersebut telah mencuri sepatunya, dsb. Jadi, di samping belajar bahasa yang mengasyikkan, anak-anak juga belajar nilai-nilai Islam. Tidak heran kan kalau ada yang mengatakan bahwa orang Amerika itu lebih islami (tentu dalam konteks perilaku tertentu). Mereka belajar moral setiap hari (dalam pelajaran Bahasa), sedang kita?

Akibat pembatasan ilmu yang terlalu banyak dalam kurikulum Indonesia, maka muatan masing-masing pelajaran menjadi terbatas. Walhasil, terjadilah apa yang Bu Rina sebutkan sebagai “materinya diulang-ulang.” Berhubung tempatnya terbatas, saya harus berhenti di sini dulu, ya Bu. Semoga bisa kita gali lebih lanjut dalam diskusi-diskusi berikutnya. (mj/www.suara-islam.com)

KH. Cholil Ridwan : Istisyhâd Bukan Bunuh Diri

09/02/2009

cholil_mui00Thursday, 05 February 2009 Pengasuh: KH. A. Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat) Assalamu’alaikum wr wb Menghadapi agresi Israel sejak 27 Desember lalu hingga kini, wakil ketua biro politik Hamas Musa Abu Marzuq menyatakan aksi bom bunuh diri menjadi bagian dari perlawanan muslim Palestina (Koran Tempo, 2/1/09). Bukankah bunuh diri dilarang agama Islam, Pak Kiyai? Tolong jelaskan. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb

Nanang, Padang HP. 0813637xxxxx

Waalaikum salam wr wb Sdr Nanang, aksi yang dilakukan anggota ninja yang tertawan musuh dengan menelan pil racun atau menggigit lidahnya sendiri sampai mati, disepakati para fuqaha sebagai bentuk bunuh diri (intihâr). Tindakan ini haram hukumnya dilakukan seorang muslim, sebagaimana wasiat Nabi Saw:

‘’Pernah ada kasus menimpa orang sebelum kalian; ada seseorang yang terluka, lalu mengambil sebilah pisau, kemudian dia gunakan untuk melukai tubuhnya hingga darahnya pun tidak mau berhenti, sampai akhirnya dia pun mati. Allah berfirman: Hamba-Ku telah bergegas menemui-Ku karena ulahnya, maka Aku pun mengharamkan surga untuknya’’ (HR Bukhari).

Beda halnya dengan pejuang Palestina yang mengenakan rompi penuh bom lalu meledakkan diri di tengah kerumunan tentara Israel. Aksi ini disebut istisyhâd. Yaitu aksi menghadapi musuh dengan ‘’mempertaruhkan’’ diri hingga terbunuh.

Istisyhâd dibenarkan, dengan catatan sasarannya bukan kaum Muslim, atau tempat berkumpulnya kebanyakan orang Muslim seperti pasar, masjid, dan sebagainya, meskipun di situ ada musuh. Sebab, meninggalnya satu nyawa seorang Muslim masih lebih ringan bagi Allah ketimbang hilangnya seluruh dunia. Demikian wasiat Nabi saw.

Selain itu, istisyhâd tidak boleh menargetkan ahli dzimmah (Yahudi, Nasrani, atau orang musyrik yang hidup dalam naungan Negara Islam). Nabi Saw berpesan: ‘’Siapa saja yang menganiaya ahli dzimmah, maka sungguh akulah yang akan menjadi penuntutnya.

’’ Bahkan meskipun ‘’tidak rasional’’ menurut kalkulasi militer, istisyhâd tetap dinilai sebagai jihad. Al-Qurthubi (al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, II/364) mengutip Muhammad al-Hasan yang berkata, “Kalaupun ada seorang (mujahid) berperang menghadapi 1000 musuh kaum musyrik, sementara dia seorang diri, itu tidak masalah jika memang dia berambisi untuk meraih kemenangan atau menjadi tekanan bagi pihak musuh.

” Beliau melanjutkan, “Jika aksi itu ada manfaatnya bagi kaum Muslim, lalu dirinya binasa demi kemuliaan agama Allah, serta menjatuhkan mental kaum kafir, maka hal itu merupakan kedudukan yang mulia.

” Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan, dalam sebuah pasukan Islam yang menyerbu musuh terdapat pemuda Ghulam. Ia begitu piawai berperang, sehingga musuh-musuhnya kesulitan membunuhnya meskipun banyak peluang buat mereka. Si pemuda kemudian menunjukkan pada musuh, bagaimana cara efektif untuk membunuh dirinya.

Benar saja, ketika mendapat kesempatan untuk itu, musuh akhirnya berhasil menewaskan pemuda itu. Dia syahid, dan pengorbanannya membuat musuh yang terkesima berbondong-bondong masuk Islam dengan mengatakan, “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan)-nya pemuda ini.”

Di zaman Rasulullah, ada kisah kepahlawanan Anas bin Nadhar dalam peristiwa Perang Uhud. Saat itu Anas mengamuk sendirian melabrak musuh, setelah mendengar kabar burung bahwa Rasulullah wafat. Anas gugur, dengan jasad penuh luka sehingga sulit dikenali kecuali oleh sudara perempuannya. Kepahlawanan beliau ini diukir dalam al-Quran:

Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Lalu di antara mereka ada yang gugur dan ada (pula) di antara mereka yang menunggu-nunggu.” (QS al-Ahzab [33]: 23).

Dalam Perang Yamamah, Bara bin Malik diusung kawan-kawannya ke atas tameng yang disangga dengan ujung-ujung tombak. Lalu tubuhnya dilemparkan hingga meloncati benteng musuh. Di dalam benteng dia dibantai lawan, namun sebelum itu aksinya mampu menjebol pintu gerbang benteng. Tidak seorangpun sahabat menyalahkan keenkadan Bara bin Malik. Kisah ini dimuat dalam Sunan Al-Baihaqi, As-Sayru Bab At-Tabarru’ Bit-Ta’rudhi Lilqatli (9/44), tafsir Al-Qurthubi (2/364), Asaddul Ghaabah (1/206), dan Tarikh Thabari.

Hal serupa dilakukan Salamah bin Al-’Akwa, Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah ketika menghadapi pasukan Uyainah bin Hishn. Keberanian mereka menerobos musuh membuat pasukan Islam akhirnya memenangi pertempuran. Mereka syahid. Rasulullah memuji mereka dengan mengatakan, “Pasukan infantri terbaik hari ini adalah Salamah” (HR Bukhari-Muslim).

Mengomentari kisah ini, Ibnu Nuhas berkata: ‘’Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.Tidak mengapa dilakukan jikan dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi Saw tidak mencela, Sahabat ra tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan’’ (Masyari’ul Asywaq 1/540).

Masih banyak sahabat yang mengorbankan diri serupa itu, misalnya Hisyam bin Amar Al-Anshari, Abu Hadrad Al-Aslami dan dua rekannya, Abdullah bin Hanzhalah Al-Ghusail, dan lain-lain.

Aksi syahid, sebenarnya juga sudah biasa dilakukan rakyat Indonesia dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Di Surabaya, anak buah Bung Tomo juga gagah berani memanjat gedung hotel untuk memerosotkan bendera Belanda dan menggantikannya dengan Merah Putih. Padahal, saat itu konvoi pasukan udara Sekutu meraung-raung di langit Surabaya dan mengebomi warga setempat.

Sedangkan rakyat Aceh sangat menghayati Hikayat Perang Sabil, yang berisi ajakan dan anjuran berperang melawan pasukan penjajah kaphe (kafir). (mj/www.suara-islam.com)

KH. M Al Khaththath : Haramkah Golput?

28/01/2009
Golput, Haramkah?

Golput, Haramkah?

Monday, 26 January 2009

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III di Padangpanjang, Sumatera Barat, yang berlangsung sejak Jumat (24/1) hingga Senin (26/1) telah mengeluarkan fatwa haramnya golput dalam pemilu. Menurut Sekjen MUI Ichwan Sam, memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib. ”Jadi memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram,” tegas Ichwan.

Bila kita menyoroti amal dengan hukum syara’, yakni melihat hukumnya dengan timbangan halal haram, maka dalam hal ini harus dilihat dengan kaca mata hukum syara’ semata, tidak boleh menggunakan pertimbangan-pertimbangan lain. Sebab, hak menghalalkan dan mengharamkan benda (asyaa’) atau perbuatan (af’aal) hanyalah hak Allah, bukan yang lain!. Dalam kasus permintaan fatwa tentang golput, apakah hukumnya halal atau haram, maka permintaan itu boleh. Tetapi memberikan pengarahan apalagi tekanan agar golput itu diharamkan, jelas ini tidak bisa dibenarkan. Oleh karena itu, bagaimanakah sesungguhnya memilih wakil rakyat dalam timbangan syara?

Hukum syar’i dalam ta’rif para ulama adalah khithab syaa’ri al amuta’alliq biaf’alil ibaad, yang artinya: seruan pembuat syara’ (Allah SWT) yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Maka aktivitas memilih wakil rakyat bisa dikategorikan kepada aqad wakalah. Yakni ijab qabul antara rakyat pemilih (muwakkiil) dengan wakil rakyat (wakiil) yang sighat-nya adalah mewakilkan suatu amal kepada wakil rakyat (wakiil).

Dalam wakalah ini perlu diperhatikan amal apa yang akan dilakukan oleh wakil rakyat yang mewakili rakyat yang memilihnya?. Sebab hukum asal dari suatu wakalah adalah mubah. Namun amal dari wakalah itu menentukan halal haramnya suatu wakalah. Bilamana seseorang mewakilkan suatu amal pencurian kepada orang lain, maka wakalah seperti ini hukumnya haram. Sebaliknya, seseorang yang mewakilkan kepada orang lain untuk mengambil gajinya adalah halal.

Dalam masalah pemilihan wakil rakyat di kursi parlemen, amal yang diwakalahkan adalah amal membuat undang-undang (taqnin) dan melakukan pengawasan kepada penguasa (muhasabah). Dalam hal ini perlu dijelaskan kepada rakyat tentang status hukum syara’ dari amal wakil rakyat itu sehingga rakyat bisa memberikan wakalah kepada mereka dengan kesadaran hukum Islam.

Dalam pandangan Islam, membuat undang-undang (taqnin) yang diberlakukan kepada rakyat dalam proses pemerintahan hanya bisa dibenarkan bilamana hukum yang diundangkan itu adalah semata-mata hukum syariat Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah. Pembuatan UU dengan rujukan selain dari hukum syara’ adalah haram hukumnya. Sebab tindakan itu bisa terkategorikan melanggar hak Allah SWT dalam membuat hukum.

Allah SWT berfirman:

menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik”. (QS. AL An’am 57).

Juga Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. an-Nahl [16]: 116)

Sehingga dalam hal pembuatan perundangan, baik wakil rakyat maupun pemerintah, dibatasi hanya wajib mengadopsi dari hukum syara’ maupun hasil-hasil ijtihad yang digali (istinbath) dari dalil-dalil syar’i. Membuat perundangan dengan merujuk kepada system hukum dan perundangan selain Islam (baik dari system Kapitalis Barat maupun system Sosialis Komunis) bagi kaum muslimin haram hukumnya.

Sedangkan amal mengawasi pemerintah (muhasabatul hukkam) dengan standar hukum syara’ adalah hak sekaligus merupakan kewajiban rakyat yang bisa dilaksanakan langsung atau melalui wakil rakyat.

Dengan demikian bilamana rakyat memilih wakil rakyat yang akan melaksanakan amal mengadopsi hukum-hukum syara’ sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah dengan pedoman halal-haram dalam pandangan Islam, maka memilih wakil yang bisa dipercaya untuk mengemban tugas-tugas tersebut hukumnya halal.

Sebaliknya, memilih wakil rakyat yang akan mengadopsi hukum-hukum selain Islam sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah tidak dengan timbangan syara’, apalagi secara nyata menolak penerapan syariah oleh negara dan bertekad melestarikan system negara dan pemerintahan sekuler, maka memilih wakil rakyat seperti ini jelas hukumnya haram bagi setiap muslim. Na’udzubillahi mindzalik!

Kini jelaslah halal-haramnya hukum memilih wakil rakyat dalam pemilu. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana calon-calon wakil rakyat, apakah masuk dalam criteria halal dipilih atau justru haram dipilih. Ibarat akad nikah, sebelum diijab oleh calon mertua, seorang lelaki harus melamar terlebih dahulu. Calon mantu yang tidak layak tentu tidak akan diserahi (ijab) dalam majelis akad nikah.

Oleh karena itu, kampanye para calon wakil rakyat di daerah pemilihan masing-masing harus dilihat secara teliti oleh rakyat sehingga rakyat bisa memilih wakilnya sesuai criteria hukum syariat Islam yang telah diterangkan di atas, bukan sekedar criteria versi MUI yang masih sangat umum tersebut. Sebagai waratsatul anbiya, hendaknya para ulama tidak perlu sungkan dan ragu berbenturan dengan penguasa atau kekuatan politik manapun dalam menerangkan system pemerintahan menurut Islam secara gamblang agar menjadi pedoman rakyat dan penguasa yang mayoritas muslim ini.

Memilih wakil rakyat yang bisa dipercaya (terbukti dalam program-program kampanye syariahnya dalam berbagai bidang kehidupan) akan memperjuangkan adopsi syariah secara kaffah menjadi UU dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara adalah harga mati buat setiap umat Islam. Namun bila tidak ada yang layak, umat harus menahan diri dari memilih yang haram, dan harus berjuang untuk mengangkat mereka yang layak sekalipun tidak tercatat sebagai calon dalam permainan yang ada! Baarakallah lii walakum (MAK)

H. Chep Hernawan (GARIS) : Berjuang Untuk Tegaknya Syari’ah

21/01/2009

chepgarisDalam berbagai kesempatan aksi unjuk rasa, lelaki tegap yang lahir pada tanggal 12 Mei 1955 ini kerap memimpin anak buahnya di lapangan secara langsung. Anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan H. Endang Syafi’i, seorang aktivis Islam di Cianjur dan Hj Siti Zubaedah ini selalu memotivasi para aktivis GARIS untuk terus berjuang menegakkan Syari’at Islam. “Karena hanya dengan Syari’at Islam, masalah-masalah yang melanda Indonesia dapat diselesaikan”, ngkap pemilik perusahaan plastik terbesar di Jawa Barat itu.
Semangat jihad pria yang sempat mengenyam pendidikan di beberapa pesantren di Cianjur itu juga sangat tinggi. Bahkan beliau berharap Indonesia tidak hanya memiliki taman makam pahlawan, tapi juga mempunyai taman makam mujahid. Harapan ini dibuktikan beberapa saat lalu dengan menyiapkan lahan seluas 2 hektar untuk pemakaman mujahid trio bom bali, Amrozi dkk.
“Kami telah menyiapkan lahan seluas 1 hektar di Cianjur sebagai tempat pemakaman para mujahid, sebagai taman makam pahlawan. Siapapun yang berjuang untuk membela Islam dan mati sebagai syuhada, kami siap memakamkannya di Cianjur,” jelasnya.
Ketika ditanya kenapa dekat dengan Amrozi dkk, beliau menjawab ada kesamaan visi yaitu “menghancurkan musuh-musuh Islam, komunisme” ungkapnya. Karenanya, dia menghimbau kepada umat Islam. “Siapa saja yang punya kekayaan dan intelektual, mari berjuang bersama demi tegaknya Syari’at Islam”. (Halim/Shodiq, Suara Islam)

Irena Handono : Misionaris dan Zionis

18/01/2009

Image

Sunday, 18 January 2009

Diasuh oleh Irena Handono

Menyeruaknya kabar tentang kondisi rakyat Palestina di Gaza yang menjadi bulan-bulanan kebrutalan ‘zionis’ Israel hingga headline hampir tiap media cetak, tak luput juga TV, Radio dan SMS, semenjak 28 desember lalu yang mengangkat tentang Gaza membuat penyebutan ‘zionis’ akhirnya menarik untuk dikaji.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap agama mempunyai misi penyebaran agama (religion spreading). Dalam Islam disebut dengan ’dakwah’, seruan kepada orang lain agar mengambil yang baik dalam koridor Islam, melakukan kema’rufan dan mencegah kemunkaran. Tugas dakwah tidak hanya dibebankan pada seorang da’i saja tapi seluruh muslim. Tujuan dakwah Islam adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Misionaris

Misionaris adalah sebutan untuk siapa saja yang mengemban tanggungjawab untuk menyebarkan kristen. Misionaris masuk ke berbagai negara dengan tujuan untuk memperkenalkan dan memperluas penyebaran akidah Kristen. Dalam dunia Katholik mereka disebut sebagai Misionaris sedangkan di Protestan mereka disebut Zending. Tujuan dari keduanya tidaklah berbeda yakni memperbesar jumlah pengikut akidah yang mereka sebarkan.

Pedoman mereka adalah ayat Bibel, Matius 28:19,

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

Sebenarnya mudah saja menggugat keabsahan dari dasar gerakan misionaris ini. Pada ayat lain dalam Bibel, Matius : 10:5-6, disebutkan,

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel

Jadi kita lihat bagaimana inkonsistensi dalam ayat-ayat Bibel hasil pengubahan tangan-tangan manusia. Pada ayat kedua dinyatakan jelas bahwa gerakan misionaris hanya terbatas pada umat Israel.

Kisah Para Rasul  16:6 Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.

Dan pada Matius 15:24, Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Maka lebih jelas lagi bahwa ajaran Yesus adalah hanya untuk bani Israel saja. Jadi bukan untuk orang Indonesia.

Zionisme

Zionisme adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan ini baru muncul pada abad ke-19. Dengan tujuan ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang kala itu merupakan wilayah Khalifah Ustmaniah yang berpusat di Turki.

Ide zionisme ini di ciptakan oleh Theodore Herzl, tahun 1896 dia mengeluarkan sebuah buku Der Judeenstaat/The Jewish State (Negara Yahudi) yang dijadikan pedoman bagi pendirian negara Yahudi.

Zionisme menggunakan ayat-ayat dalam Taurat sebagai pedoman untuk pembenaran gerakannya, mereka berusaha meyakinan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.

Kejadian 12:1-7

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar,… Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.

Kejadian 15:18

Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

Kalaulah konsisten dengan dalil yang mereka pakai, maka perjanjian antara Abraham (nabi Ibrahim as) dan Tuhan tersebut adalah kepada KETURUNAN nabi Ibrahim as, yakni nabi Ishak as dan nabi Ismail as. Dari nabi Ishak menjadi bani Israel yang nabi Musa as, nabi Isa as adalah termasuk didalamnya. Dan dari nabi Ismail as adalah Rasulullah Muhammad saw serta komunitas Arab saat ini.

Jadi ketika warga Palestina yang berdarah arab diusir dari tanah Palestina dengan alasan mereka tidak berhak atas tanah yang ’dijanjikan Tuhan’. Maka pertanyaannya, Tuhan berjanji kepada siapa? Kepada keturunan nabi Ibrahim as. QS. Al-Baqarah : 124.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Sedangkan kaum Yahudi yang ada sekarang ini, bukanlah dari keturunan nabi Ibrahim as. Mereka disebut Yahudi kontemporer, orang-orang yang menjadi Yahudi karena ideologis bukan karena faktor biologis (nasab).

Pada abad pertengahan banyak sekali orang-orang Eropa masuk agama Yahudi. Bahkan pada abad ke-12 ada gerakan besar-besaran dari orang Yahudi-Balkan memasukkan orang-orang ke-agamanya, dan yang terbanyak adalah bangsa-bangsa Rusia di wilayah Kaukasia yang keturunannya di Eropa Tengah, Rusia, Polandia dan Amerika Serikat. Dari negara-negara tersebut kemudian memasuki Israel setelah Deklarasi Balfour 1917 yang kontroversial, menjanjikan orang Yahudi kembali ke tanah Palestina.

Mereka inilah yang disebut Yahudi Askhenazi (Yahudi Eropa barat). Mereka umumnya adalah tokoh pebisnis, ilmuwan, politikus, bankir, orang – orang yang penting di negara mereka tinggal, dan mempunyai pengaruh besar dalam kebijakan negara. Banyak dari mereka ini yang ternyata adalah anggota Free Mason. Theodor Herzl pendiri zionisme adalah juga anggota Free Mason.

Para Rabi Yahudi diseluruh dunia seperti yang disampaikan oleh Ketua Organisasi Yahudi Anti Zionis di AS, David Wice, menolak ide zionisme dan menyatakan bahwa kebijakan Zionist Israel bertentangan dengan ajaran asli Yahudi.

Ideologi zionisme menggunakan ayat-ayat Taurat sebagai pembenaran aksi mereka.

BILANGAN 31: 7, 9, 10, 15, 17 – Kemudian berperanglah mereka melawan Midian, seperti yang … Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak-anak mereka; juga segala hewan, segala ternak dan segenap kekayaan mereka dijarah, … dan segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar…. dan Musa berkata kepada mereka: “Kamu biarkankah semua perempuan hidup? … Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.

ULANGAN 7:2 – dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka.

Maka mereka yang ’beriman’ maka akan percaya dan menjalankan kekejaman-kekejaman yang tersurat dalam ayat-ayat tersebut di atas dari Kitab yang dianggap suci baginya, sehingga kekejaman yang mereka lakukan melampaui Naziisme dan kekejaman apapun dalam abad ke-20 ini. Mereka acuh terhadap aneka kecaman negara-negara internasional bahkan keputusan yang dikeluarkan oleh Persatuan Bangsa-bangsa.

Sebagaimana tercantum dalam Deklarasi keturunan Yahudi – Spanyol, 1942, sebagai berikut :

Pembasmian bangsa Palestina adalah sejarah suci. Palestina adalah tanah air kita. Semua itu sudah diajarkan para leluhur pada semua keturunan Yahudi.

Sehingga jelaslah pembantaian orang-orang Palestina adalah dogma mereka.

Sikap Kristen terhadap Yahudi

Perjanjian Lama dimana ayat-ayat teror tersebut itu ada adalah bagian dari kitab suci umat Kristen juga, mereka menyetujui dan menghormati. Disamping Yesus sendiri adalah orang Yahudi dan dibeberapa ayat Perjanjian Lama di sebutkan bahwa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. (Kejadian 12:1-7)

Cara kerja Misionaris

Misionaris masuk pada suatu wilayah pada saat : setelah suatu wilayah mengalami kerusakan fisik (bencana alam, kerusuhan atau perang) dan mengalami kerusakan non fisik (pendangkalan aqidah, moral remaja, masyarakat). Setelah suatu wilayah berhasil mereka kuasai maka selanjutnya kepentingan-kepentingan imperialis dan kapitalis akan mudah masuk tanpa kecurigaan dan perlawanan.

Zionist adalah sebuah gerakan yang tidak bersandar pada ayat-ayat Taurat yang original, namun ayat-ayat yang sudah dirubah-rubah. Kaum  Zionist  bercita-cita  untuk  membentuk  “Eretz Israel”  atau  Israel  raya,  yaitu tanah  yang  dijanjikan  di  dalam  Talmud,  meliputi  wilayah Arab Saudi, Suriah,  Yordania,  Mesir,  sampai  ke  Irak,  yaitu  wilayah  yang  sekarang  membentang  dari sungai Nil sampai  sungai  Eufrat.  Ini  merupakan  suatu  wilayah  paling  strategis  di  dunia  sepanjang jalur Mesopotamia.  Selain  itu,  wilayah  ini  mengandung  sumber  energi  minyak  bumi  yang  paling  besar  di dunia.

Misionaris dan Zionist, keduanya adalah gerakan yang memanipulasi agama sedemikian rupa untuk dijadikan kuda tunggangan sebuah upaya keserakahan untuk menguasaan kekayaan alam. (mj/www.suara-islam.com)

Ali Mocthar Ngabalin (Anggota Komisi I DPR RI) : Israel Harus Dihapus dari Peta Dunia

18/01/2009

ngabalin2Sunday, 18 January 2009

Agresi militer Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember 2008 lalu sungguh biadab. Betapa tidak, tidak satupun pemimpin Hamas yang memprediksi negara zionis tersebut akan nekat melancarkan invasi militer yang sedemikian dahsyat menerjang norma dan etika hukum serta kemanusiaan masyarakat beradab.

Pasalnya, para pemimpin Hamas semula mempercayai jaminan Kepala Dinas Intelijen Mesir, Jenderal Omar Sulaiman, yang selama ini menjadi perantara perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang berakhir pertengahan Desember 2008 lalu. Ternyata Jenderal Omar Sulaiman bersekongkol dengan para pemimpin Israel untuk menipu para pemimpin Hamas, sehingga mereka tidak siap menghadapi serangan negara zionis tersebut.

Memasuki minggu kedua, bombardemen Israel yang tidak pandang bulu telah menewaskan lebih dari 800 orang termasuk diantaranya 300 anak-anak syahid, sementara yang luka-luka mencapai 5 ribu orang. Sementara di pihak Israel yang mati konyol hanya 13 orang dan itupun 10 diantaranya tentara yang menyerbu Gaza melalui serangan darat.

Negara Zionis Israel bertekad memusnahkan rakyat Palestina sebagaimana ketika kaum Yahudi dimusnahkan Nazi Jerman. Sungguh dzalim dan biadab perilaku para pemimpin negara zionis Israel dan anteknya AS.

Sejak negara zionis Israel berdiri diatas Tanah Suci Palestina pada 15 Mei 1948 dengan Perdana Menteri (PM) pertama David Ben Gourion, Israel selalu ingin mencaplok negara tetangga Arabnya. Maka tidaklah mengherankan hingga kini telah terjadi enam perang besar di Timur Tengah (1948, 1956, 1967, 1973, 1982 dan 2006), belum terhitung perang kecil yang mencapai hampir seratus, termasuk perang Gaza sekarang ini.

Berikut ini wawancara wartawan Suara Islam, Abdul Halim, dengan anggota Komisi I DPR RI yang membidangi hubungan luar negeri, Ali Mocthar Ngabalin, seputar pembantaian militer Israel terhadap kaum muslimin di jalur Gaza, Palestina.

Israel terus melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyat Palestina sejak berdirinya Negara Zionis itu tahun 1948. Bagaimana tanggapan anda ?

Kalau dilihat dari konsepnya, sebenarnya sekarang posisi Israel bukan untuk membalas dendam, tetapi sejak awal memang telah menempatkan dirinya untuk memperluas wilayahnya yang tidak ada cara lain kecuali melakukan pembantaian terhadap muslim Palestina. Rencana Israel ini bukan satu dua hari, tetapi luar biasa karena dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

Sebelum melancarkan agresinya, Israel telah melobby dan mencekoki semua negara termasuk Indonesia, yang telah dicekoki dengan berbagai fasilitas keuangan dan pinjaman, sehingga sampai hari ini membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kebiadaban Israel.

Bagaimana menurut anda pembantaian yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza sekarang ini ?

Pembantaian Gaza ini memang luar biasa, ini waktu yang sangat panjang dengan seluruh strateginya. Sebelumnya Israel mencekoki AS dengan seluruh utang piutang keturunan Zionis Israel di AS.

Seluruh perbankan, ekonomi, air dan minyak dikuasai Yahudi AS. Sehingga ketika Israel melaksanakan seluruh keinginannya, tidak ada satu negarapun yang bisa berkutik dan melakukan pembelaan, dan hari ini kita lihat sebagai bukti nyata pembantaian terhadap muslim Palestina di Gaza.

Mengapa para pemimpin Arab seperti Mesir, Arab Saudi dan Yordania berdiam diri, bahkan Mesir malah menutup pintu perbatasan di Rafah ?

Harus saya katakan kalau Yordania dan Mesir telah terlibat perjanjian dengan Israel, sehingga kedua negara tidak dapat berbuat apa-apa. Israel sudah mempunyai planing jangka panjang. Kalau ingin melakukan agresi terhadap suatu negara melalui agresi militer, selama 20 tahun Israel berusaha semaksimal mungkin untuk mencekoki siapa yang menjadi pemimpin di negara yang diperkirakan nanti melakukan perlawanan terhadap Israel.

Libia tidak dapat berbuat apa-apa karena sudah mendapat bantuan dari AS, padahal AS dikuasai para turunan Zionis Yahudi. Maka tidaklah mengherankan jika agresi Israel ke Gaza kali ini tidak ada satupun pemimpin negara lain yang mampu melakukan pembelaan terhadap rakyat Palestina.

Sebagai misal sekarang kita lagi melakukan penelitian terhadap Rp 207 triliun uang asing yang masuk ke Indonesia dan sampai sekarang belum diketahui parlemen. Seberapa jauh tingkat kebenarannya dan seberapa jauh data-data yang dapat diperoleh dari informasi ini.

Mengapa para pemimpin dunia Arab tidak menggunakan minyak sebagai senjata utama untuk menekan AS yang telah mendukung Israel ?

Jelas tidak bisa, karena AS menguasai saham-saham dari berbagai perusahaan minyak yang ada di Timur Tengah, tidak seperti ketika terjadi Perang Timur Tengah tahun 1973 dimana Raja Faisal menggunakan senjata minyak untuk menekan AS yang membantu Israel.

Sekarang seluruh uang Arab Saudi dan AS telah dikuasai Yahudi AS, sementara Arab Saudi memiliki akses yang paling kuat dengan AS. Saya kira itulah yang menjadi persoalan umat Islam.

Bagaimana peran Mossad dan CIA dalam invasi militer Israel ke terhadap Jalur Gaza ini?

Data dan informasi yang kita peroleh, Mossad sudah selama 9 tahun berada di Palestina, sedangkan intelijen Mossad di Indonesia cukup banyak dan CIA paling banyak di Indonesia.

Apa yang dilansir mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dimana di Jakarta saja ada 2 ribu intelijen asing yang beroperasi, adalah suatu kebenaran. Sesungguhnya Israel tidak memiliki apa-apa, tetapi yang menjadi persoalan karena Israel di backup AS baik dari sisi persenjataan maupun politis. Padahal AS memiliki peranan sangat kuat di Dewan Keamanan PBB.

Adakah peran badan intelijen Mesir dan Saudi?

Itu yang kita butuh data. Tetapi minimal kita harus mengerti, tanpa mereka terlibat tetap bisa memberikan bantuan kepada Israel dengan menutup akses ke perbatasan Rafah di Mesir.

Itu sesuatu yang sungguh-sungguh sangat membantu Israel dalam melancarkan kejahatannya terhadap rakyat Palestina. Seandainya pintu perbatasan Rafah dibuka, praktis para korban agresi Israel bisa dibantu. Tetapi kenyataannya seperti ini dan kita mau bilang apa !

Mengapa Dewan Keamanan PBB tidak mampu menekan agresi Israel, meski telah ada resolusi seperti Resolusi 242 dan 338 pasca Perang 1967?

Resolusi 242 dan 338 adalah resolusi yang diberikan negara yang memiliki hak veto di DK PBB. Tetapi jangan lupa kalau DK PBB dibiayai oleh para konglomerat Yahudi AS. Karena kekuasaan Yahudi telah masuk di seluruh lini seperti DK PBB dan berbagai pemerintahan negara di dunia, sehingga tidak ada satupun negara yang dapat berteriak untuk membantu Palestina termasuk Indonesia.

Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Palestina, hanya memiliki kemampuan untuk mengecam dan mengutuk, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan langkah-langkah politis. Saya dari awal sudah saya katakan DPR bisa mendesak pemerintah untuk segera menyiapkan peace keeping force yang dibiayai oleh negara dan DPR bisa menyetujui budgetnya.

Mestinya kita mempunyai dana sekitar Rp 2,7 triliun dan cukup untuk dipakai pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia. Tetapi sampai sekarang baik dari pemerintah maupun DPR belum tergerak sedikitpun untuk melihat itu sebagai bagian dari aspirasi keterlibatan Indonesia dalam pembelaan terhadap rakyat Palestina, atau paling tidak untuk menghentikan segera agresi Israel laknatullah.

Mengenai adanya resolusi gencatan senjata dari DK PBB, jelas tidak ada gunanya bagi Israel. Sebab Israel begitu kuat dan menggurita, sehingga seluruh resolusi DK PBB tidak ada artinya apa-apa bagi Israel.

Menurut anda, mengapa Israel melakukan agresi menjelang habisnya masa jabatan Presiden Bush?

Sebetulnya tidak ada hubungannya dengan berakhirnya masa jabatan Bush. Kami dulu memiliki dokumen yang terkait dengan agresi militer Israel ke Palestina. Kebetulan menjadi momentum penting sebagai warning bagi Barack Obama kalau dia tidak bisa melakukan hal yang sama, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali diapun akan diperadabkan oleh masyarakat internasional atau negara-negara pemegang hak veto di DK PBB.

Amerika Serikat siapapun pemimpinnya, kita tidak bisa berharap banyak karena AS adalah Yahudi dan Yahudi adalah DK PBB. Semuanya merupakan sekat-sekat panjang yang dipersiapkan oleh Yahudi yang menyebar kemana-mama. Yahudi ada di PBB, DK PBB, AS dan negara lain. Sedangkan di Indonesia Yahudinya tidaklah sedikit.

Mengenai persoalan Gaza saat ini, mengapa Barack Obama hingga kini tetap bungkam ?

AS tidak memiliki sistem seperti di Indonesia, di mana Presiden cuma satu. Meskipun ada Presiden terpilih, tetapi tidak memiliki kewenangan apa-apa dan jangan pernah berharap Barack Obama dapat mengambil tindakan apa-apa sebelum dia dilantik pada 20 Januari 2009. Saya tidak memiliki keyakinan kuat dia bisa melakukan sesuatu terhadap Israel.

Dengan dibukanya front pertempuran baru oleh Hizbullah di Lebanon Selatan, bagaimana kira-kira dampaknya terhadap agresi militer Israel ke Gaza ?

Kalau itu baru merupakan bentuk persiapan perlawanan terhadap agresi Israel oleh Hizbullah. Kalau semua orang tidak bisa membela muslim Palestina, langkah Hizbullah adalah benar. Semangat atau ruh yang dibangun Hizbullah adalah tidak boleh melihat dipelosok dunia manapun, umat Islam dalam ancaman.

Indonesia memiliki sistem untuk ikut serta dalam ketertiban dan perdamaian dunia. Tetapi ternyata Indonesia tidak dapat melakukannya dan UUD 1945 hanya sebagai pajangan. Buktinya sekarang pemerintah Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa.

Jadi kalau sekarang Hizbullah mulai melancarkan serangan terhadap Israel dari Lebanon Selatan, saya yakin dalam waktu tidak terlalu lama Hizbullah akan memenangkan pertempuran melawan pasukan Zionis Israel seperti perang tahun 2006 lalu.

Saya sendiri pernah tiga kali bertemu dengan Pemimpin Hizbullah, Syekh Hasan Nasrallah, sehingga saya tahu apa itu perjuangan Hizbullah. Saya bicara dan berkomunikasi dengan Hasan Nasrallah dalam waktu cukup lama, sehingga saya tahu bagaimana langkah-langkah pemikirannya. Saya tahu apa yang harus dia lakukan bagi dunia Islam.

Hari ini dia berpihak kepada rakyat Palestina dan Hamas, saya mengerti apa yang dia lakukan. Makanya saya mempunyai prediksi kalau Hamas dan Hizbullah akan memenangkan pertempuran. Apapun di dunia ini yang dimiliki, Hamas dan Hizbullah akan memenangkan peperangan ini di bumi Palestina melawan Israel.

Hizbullah pernah memenangkan pertempuran melawan tentara AS dan Perancis, dan mampu membunuh 240 marinir AS dan 54 pasukan para Perancis dalam satu serangan bom truk di Beirut Lebanon tahun 1983 lalu.

Para Marinir AS mati terpanggang diatas senjata-senjata Hizbullah. Saya sudah sampai di wilayah pertempuran mereka, saya sudah sampai dimana Hizbullah mendidik pasukannya. Insya Allah, saya memiliki keyakinan kuat kalau Hizbullah akan menang melawan pasukan Zionis Israel.

Pasca agresi ke Gaza, adakah kemungkinan Israel akan melanjutkan agresi militernya terhadap Hizbullah, Iran dan Suriah dengan bantuan AS ?

Israel bisa melakukan invasi dengan segala cara termasuk kekuatan keuangan yang dimilikinya. Israel menggunakan power yang dimilikinya dengan budget yang cukup banyak, menguasai politik dengan cara menguasai DK PBB dan AS, maka Israel akan menggunakan ekspansinya kemana-mana termasuk ke Damaskus Suriah, Lebanon dan Iran.

Makanya kita harus dapat memberikan dukungan kepada negara-negara Islam melakukan perlawanan kepada Israel. Israel ini laknatullah, Zionis Israel, naudzubillah min dzalik.

Mungkinkah negara-negara Arab bersatu untuk melawan Israel ?

Sangat tidak mungkin negara Arab bisa bersatu. Karena AS dan Israel telah menguasai seluruh instalasi-instalasi penting seperti ekonomi dan keuangan di negara-negara Arab. Saya tidak yakin kalau negara Arab dapat bersatu melawan Israel apalagi AS.

Apakah negeri-negeri Islam perlu mengirimkan sukarelawan untuk bertempur melawan Israel sebagaimana seruan Ahmadinejad?

Iran sampai sekarang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS, dan Iran mampu mengatakan ”tidak” kepada AS kalau itu merugikan kepentingan rakyatnya.

Kalau Indonesia tidak!. Sepanjang itu menguntungkan orang per orang di Indonesia dan kepentingan AS, kepentingan negara belum tentu menjadi kepentingan rakyat.

Mengenai pengiriman sukarelawan, Iran hanya mengusulkan, tetapi negara mana yang siap. Negara mana yang mau membuktikan mengirimkan sukarelawannya. Negara mana yang membuka pintu, baik dari Suriah maupun Lebanon Selatan atau Mesir.

Tidak ada negara yang siap untuk itu. Suriah dan Iran bisa memulainya dan Yordania sedikit siap. Selain itu tidak ada, saya tidak percaya, apalagi Mesir sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Mungkinkah serangan ke jalur Gaza ini akan menjadi perang besar di Timur Tengah?

Tidak mungkin terjadi perang besar Timur Tengah, untuk 10 tahun, 15 tahun bahkan 20 tahun mendatang.

Kita harus bisa memperkuat dan mem-back up Iran. Iran akan berada di garis depan untuk melakukan perlawanan terhadap Israel, kalau negara lain tidak mungkin. Iran memiliki karekter negara yang tidak bisa melakukan kerjasama dengan negara manapun di dunia kalau merugikan kepentingan Islam dan negaranya.

Iran memiliki independensi dan tidak dapat membangun hubungan diplomatik dengan negara lain yang hanya mau mencekoki. Devide et impera tidak berlaku bagi Iran. Iran bisa melakukan perlawanan kepada siapa saja.

Dulu sebetulnya Saddam Hussein, tetapi dia memiliki dua persoalan yakni sangat otoriter dan tidak dapat bekerjasama dengan AS. Berbagai kontrak kerja perminyakan dengan AS, dia tidak mau menandatanggani. Itulah sebabnya tidak ada cara lain yang dilakukan AS kecuali menggunakan kekerasan untuk dapat menumbangkannya dan merusak Baghdad.

Bagaimanan menurut anda solusi akhir persoalan Palestina ini?

Solusi akhirnya adalah negara Zionis Israel harus dihapus dari peta dunia. Sebab Yahudi Israel mendirikan negara dengan tidak memiliki wilayah, dengan mencaplok wilayah Palestina. Orang Israel adalah manusia-manusia yang dilaknat Allah Swt, manusia-manusia yang terkutuk.

Orang Yahudi adalah maghdhuubi alaihim, sehingga kita berdoa untuk waladholin. Tidak ada cara lain, kalau memang Allah menghendaki suatu saat ada kesepakatan diantara negara-negara Islam seperti negara-negara Arab dan Iran dapat di backup dengan seluruh kekuatannya.

Memang sesuai dengan UUD 1945 dimana penjajahan di muka bumi harus dihapuskan, maka penjajahan di Timur Tengah harus dilawan, sampai Israel negara penjajah dan kanker ganas di Timur Tengah dapat dihapus dari peta dunia. (mj/www.suara-islam.com)

Munarman: Waspadai Akal Bulus Agen Zionist Di Indonesia

09/01/2009

Wednesday, 07 January 2009

ImageUntuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel, seorang tokoh Jaringan Islam Liberal, Abdul Moqsith Ghazali, mengusulkan agar dibuka hubungan diplomatik dengan negara Israel. Hal tersebut diungkapkan oleh Moqsith dalam acara talk show di sebuah stasiun televisi swasta, Rabu malam (7/12). Menurutnya, hal itu diperlukan agar terjadi dialog untuk menemukan solusi permasalahan di sana. “Perdamaian masih mungkin untuk dilakukan. Bagaimanapun juga mereka (Yahudi Israel) adalah manusia yang punya akal dan hati nurani. Mereka tidak akan rela melihat manusia dibantai begitu rupa ” dosen Universitas Paramadina itu beralasan.

Kontan saja, pernyataan nyleneh Moqhsith menuai kecaman. Munarman, S.H, Panglima Komando Laskar Islam (KLI) menyatakan bahwa usulan itu tidak lebih merupakan akal bulus agen Zionist di Indonesia agar Zionist Israel bisa bebas berkeliaran menginfiltrasi dan merusak umat Islam Indonesia.

“Usulan-usulan tersebut gencar diwacanakan oleh agen-agen Zionist yang tergabung dalam JIL dan komunitas binaan Zionist lainnya” ungkap Munarman kepada Suara Islam, Kamis (8/12).

Untuk Indonesia, secara konstitusi usulan itu sangat aneh. Sebab menurut konstitusi negeri ini, yang sering didewa-dewakan oleh kalangan JIL, penjajahan sebagaimana yang dilakukan oleh Zionist Israel harus dihapuskan dari muka bumi. ”Ini artinya usulan tersebut adalah akal bulus semata untuk kepentingan Zionist melakukan dominasi dan hegemoni lebih dalam terhadap umat Islam Indonesia”, jelasnya.

Munarman mengingatkan, sejak awal berdirinya gerakan Zionist Internasional dan negara Israel, mereka tidak pernah menggunakan bahasa dialog. ”Tentu kita masih ingat bahwa Zionist Israel membentuk dan menggunakan pasukan teroris Hagana untuk mencaplok Palestina. Bagaimana bisa Moqsith dan gerombolannya mengusulkan dialog dengan Zionist?” tanya Direktur An Nashr Institute itu.

Bahkan, mantan Ketua YLBHI itu mengingatkan, ”Hanya orang sakit jiwa dan dungu yang percaya Zionist Israel bisa diajak dialog. Awas hati-hati, virus dungu itu menular”, ingatnya. [shodiq/www.suara-islam.com]

Habib Rizieq: Usulan Moqsith Bodoh, Menjebak dan Licik

09/01/2009

Wednesday, 07 January 2009

ImageUsulan Moqsith Ghazali, seorang tokoh JIL di acara sebuah stasiun televisi pada Rabu Malam, (7/1), untuk menyelesaikan permasalahan Palestina-Israel adalah dengan melakukan perundingan dan membuka hubungan diplomatik merupakan usul yang bodoh, menjebak dan sekaligus licik. Demikian pernyataan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab kepada Suara Islam, Kamis (8/1).

Jika yang disarankan untuk membuka hubungan diplomatik itu adalah negara Indonesia, menurut Habib Rizieq, usulan Moqsith itu adalah usulan bodoh. Karena bertentangan dengan konstitusi UUD 1945 tentang Penjajahan dan Komitmen Politik Luar Negeri RI yang menghendaki berdirinya negara Palestina.

“Usul tersebut juga menjebak, sebab hubungan diplomatik tersebut akan menjadi legalitas internasional bagi Israel mengingat RI adalah negara muslim terbesar di dunia, sekaligus menjadi pengkhianat terbesar di dunia, sekaligus menjadi pengkhianatan terhadap solidaritas Islam”, ungkap Habib Rizieq.

Yang ketiga, Habib Rizieq menyebut usul tersebut sebagai usulan yang licik. “Karena Moqsith dan kawan-kawan adalah kelompok liberal yang selama ini menjadi antek AS yang sangat pro-Israel” papar Habib.

Bagi Habib Rizieq, Israel adalah negara biadab dan jahanam. Pasalnya, Israel telah membantai anak-anak tak berdosa. “Israel tidak paham bahasa dialog. Israel hanya paham bahasa perang. Jadi hanya orang gila yang mau dialog dengan bangsa macam itu” ingat Habib. [shodiq/www.suara-islam.com]

KH. M. Al Khaththath : Selamatkan Palestina

09/01/2009

Wednesday, 07 January 2009

ImageSetelah membombardir Gaza dengan ratusan pesawat F16 yang meluluh lantakkan ribuan rumah, masjid, dan rumah sakit, serta menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan orang, Israel pada 4 Januari 2009 mulai melakukan serangan darat. Ribuan personil tentara Yahudi dan tank-tank mereka telah menyerbu Gaza City dan sekitarnya. Pertempuran pun berkecamuk. Korban-korban dari kedua belah pihak berjatuhan, terlebih rakyat sipil. Kecamuk perang darat jelas menimbulkan korban yang lebih banyak dan sekaligus akan menentukan pihak yang menang akan menguasai pihak yang kalah.

Kecamuk Gaza memanggil seluruh umat Islam di seluruh dunia ini, wabil khusus orang-orang yang tinggal di wilayah-wilayah terdekat seperti Mesir, Libanon, Syria, Yordan, Arab Saudi, dan negeri-negeri di Timur Tengah. Juga wabil khusus mereka-mereka yang punya kekuatan persenjataan dan punya wewenang untuk menggerakkan tentara dan alat-alat militer.

Kecamuk perang melawan Yahudi Israel di Gaza telah memanggil kaum muslimin untuk menolong saudara-saudara mereka yang diserang oleh Yahudi karena semata-mata mereka muslim. Mengingatkan kita semua dengan firman Allah SWT: ”(akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan”. (QS. Al Anfal [08]: 72).

Kebrutalan tentara Israel dan kezaliman mereka di gaza mengingatkan kita kepada hadits Nabi saw. : ”Setiap muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh dia menzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh…”. (Sahih AL Bukhari Juz 8/309).

Apakah layak kaum muslim yang jumlahnya 1,5 milyar di seluruh dunia ini membiarkan saudara-saudara muslim mereka di Gaza dilumat Yahudi Israel?

Jangan sampai Gaza menyusul daerah-daerah lain yang dicengkeram Israel. Dan jangan sampai seluruh tanah Palestina hilang dari peta dunia karena telah berganti menjadi Israel sebagaimana Andalusia telah berganti menjadi Spanyol!

Jeritan umat Islam di Gaza mengingatkan kita kepada hadits Nabi: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan saling merasakan di antara mereka laksana satu tubuh, jika sebagian anggota tubuh mengeluh, maka seluruh tubuh pun mengeluh dengan demam dan tidak bisa tidur” (Kitab Syu’abul Iman Al Baihaqi, Juz 23/24).

Kebrutalan para pemimpin Israel yang telah memerintahkan pasukannya melakukan serangan biadab dengan memamerkan kecanggihan mesin-mesin perang mereka, mengingatkan kita kepada kesombongan nenek moyang mereka di Madinah, Bani Qainuqa, yang telah diperingatkan oleh baginda Rasulullah pasca pelecehan mereka terhadap seorang wanita muslimah dan pembunuhan seorang muslim di pasar Bani Qainuqa.

Mereka menolak ajakan Rasul masuk Islam walau itu sudah dibenarkan di dalam kitab suci mereka. Mereka berkata kepada Rasulullah saw : ”Hai Muhammad, sesungguhnya jika engkau berhadapan dengan kami, maka engkau akan menghadapi kaum yang tak terkalahkan!”.

Akhirnya Rasulullah saw. memutuskan mengepung perkampungan Bani Qainuqa selama 15 hari lalu mengusir mereka dari kota Madinah.

Oleh karena itu, yang paling diperlukan hari ini bukanlah seruan kata-kata. Lihatlah, seruan gencatan senjata dari Presiden Perancis yang datang langsung ke Palestina saja tidak digubris oleh pemerintah Israel. Apalagi seruan-seruan dari dunia Islam yang terkesan basa-basi.

Palestina hari ini perlu keputusan tegas dari seorang pemimpin umat Islam yang disegani dunia Islam dan memiliki otoritas menggerakkan tentara-tentara reguler di negeri-negeri Islam seperti baginda Rasulullah saw. yang telah menggerakkan tentaranya untuk mengepung perkampungan Bani Qainuqa hingga bangsa Yahudi itu menyerah dan terusir dari kota Madinah. Ya, tentara dengan persenjataan lengkap yang ada di masing-masing negara di dunia Islam itulah yang perlu digerakkan oleh seorang kepala negara yang diakui kewibawaan dan keputusannya oleh masing-masing kepala negara di dunia Islam. Ya kita perlu seorang kepala negara yang punya otoritas penuh seperti Khalifah Mu’tashim Billah yang mampu menjaga izzah umat, yang telah mengirim pasukan Islam yang besar sehingga menaklukkan kota Amuria, menewaskan 30 ribu tentara kafir dan menawan 30 ribu lainnya.

Sudah saatnya seluruh umat Islam, wabil khusus para tentara regulernya yang memiliki kekuatan dan ketrampilan berperang untuk melaksanakan jihad fisabilillah, menjual diri dan hartanya kepada Allah SWT untuk menggapai surga dan ridlo-Nya. Dia SWT berfirman: Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. AT Taubah 111).

Dengan jihad yang dikobarkan oleh salah seorang kepala negara dari dunia Islam yang kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya, dan dengan dibukanya perbatasan Mesir, Syria, Jordan, dan Libanon, insyaallah akan terjadi gerakan puluhan atau ratusan ribu mujahidin dari seluruh dunia. Mereka akan berperang mengamalkan firman Allah SWT di atas.

Bukankah Rasulullah saw. bersabda: ”Tidak akan terjadi kiamat hingga kalian (umat Islam) memerangi kaum Yahudi hingga batu-batu pun berkata: ’hai muslim ini di belakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah!” (Sahih Bukhari Juz 10/71).

Mudah-mudahan dengan mobilisasi jihad yang dilakukan oleh salah seorang kepala negara muslim dan diikuti oleh seluruh kepala negara dunia Islam, Yahudi bisa diusir dari seluruh wilayah Palestina, dan kaum muslim Palestina bisa diselamatkan. Wallahu khairun haafizha wahuwa arhamur raahimiin! (MAK)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.