KH. Cholil Ridwan, Lc : Peranan Wanita Dalam Dakwah Islam

fui10aAssalamu’alaikum wr wb. Pak Ustadz, apa sebenarnya peran kaum wanita Muslimah dalam mengemban dakwah Islam. Secara syari’ apakah mereka wajib mengemban dakwah seperti halnya kaum pria, atau bagaimana? Syukran atas jawabannya.
Nisa’, Sidoarjo

Jawab:

Wassalamu’alaikum wr wb.

Pada dasarnya, hukum syara’ itu dibebankan kepada laki-laki dan wanita. Tidak ditemukan perbedaan di antara kedua jenis kelamin dalam hal taklif (pembebanan hukum), kecuali bila terdapat nash-nash yang membedakannya.

Apabila terdapat seruan seperti: “Hai orang-orang yang beriman”, maka seruan tersebut selain ditujukan untuk kaum lelaki mencakup pula wanita. Dengan demikian, tidak perlu ada seruan khusus untuk kaum wanita, misalnya: “Wahai orang-orang wanita yang beriman”.

Dalam bahasa arab terdapat kaidah yang menyatakan bahwa seruan bagi kaum laki-laki sekaligus mencakup seruan bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan seruan bagi perempuan, tidak mencakup bagi laki-laki; ia terbatas hanya untuk kaum wanita saja. Atas dasar tersebut dapat dipahami bahwa seruan-seruan Allah SWT seperti: “Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan para pemimpin  (pejabat yang menerapkan Islam)  dari  kalangan  kamu”;

Walaupun kata-kata yang terdapat dalam firman Allah SWT di atas semuanya berbentuk mudzakkar (jenis laku-laki), akan tetapi seruan yang demikian telah disepakati bahwa ia juga mencakup bagi wanita.

Tentang peran wanita muslimah dalam mengemban dakwah Islam; sebenarnya aktifitas tersebut bukanlah perbuatan yang berdiri sendiri. Sehingga dakwah untuk kalangan wanita mempunyai sejumlah hukum syara’. Berikut ini hanya akan disebutkan sebagian saja dari hukum-hukum tersebut:

1.    Menuntut ilmu tentang hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan berbagai urusan /perbuatan wanita ada lah wajib. Begitu pula dengan laki-laki terhadap perbuatan yang dikhususkan baginya.

2.    Aktifitas amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib bagi wanita, sama halnya bagi laki-laki, tetapi masing-masing melakukannya sesuai dengan kemampuannya.

3.    Mengoreksi tingkah laku penguasa merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang sifatnya wajib atas wanita dan laki-laki.

4.    Mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kaum  muslimin serta memerangi pemikiran-pemikiran kufur dan sesat, merupakan kewajiban atas kaum laki-laki dan wanita.

Berkaitan dengan hukum-hukum di atas terdapat sejumlah keadaan wanita yang berkaitan dengan hukum syara’ yang lain, misalnya:

(1)     Wanita tidak boleh keluar rumah, tanpa izin dari walinya sendiri. Misalnya, ayah, saudara laki-laki, suami, paman, dan sebagainya. Ketentuan ini membatasi gerak dakwahnya.

(2)    Apabila tidak disertai suami atau salah seorang muhrim dari keluarganya, maka wanita tidak boleh mendatangi tempat-tempat khusus [rumah, apartemen, dan sebagainya] yang di dalamnya terdapat laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Ketentuan ini juga membatasi gerak dakwahnya.

(3)    Apabila seorang wanita telah bergabung ke dalam suatu gerakan Islam dan pimpinan gerakan tersebut menyuruhnya melaksanakan suatu perintah, sementara walinya menyuruhnya dengan perintah yang lain, maka ia wajib menaati perintah walinya selama perintah itu bukan berupa maksiat yang nyata.

Secara pasti, kita mengetahui bahwa taat kepada pemimpin adalah wajib (sebatas wewenang kepemimpinannya). Pemimpin yang dimaksud di sini antara lain khalifah (kepala negara), pejabat pemerintah, pimpinan partai/organisasi Islam, dan sebagainya. Kita juga tahu bahwa taat kepada ayah dan suami adalah wajib. Semua itu berlaku dalam perkara bukan maksiat kepada Allah SWT. Apabila perintah ayah atau suami bertentangan dengan perintah amir/pemimpin, maka dalam hal seperti ini, mana yang harus ia patuhi?

Yang wajib dipatuhi adalah perintah ayah atau suami. Sebab, nash-nash Syara’ yang ada memang lebih menegaskan agar wanita taat kepada ayah atau suami daripada mentaati pemimpin suatu gerakan Islam.  Hadits-hadits Rasulullah saw tentang hal ini sangatlah jelas, seperti antara lain sabda beliau:

“Taat kepada Allah adalah sama halnya dengan taat kepada seorang ayah. Berbuat maksiat kepada Allah adalah sama halnya dengan berbuat maksiat kepada seorang ayah”.

Di antara aktifitas yang terpenting di dalam mengemban dakwah Islam   adalah   keterikatan  para  pengemban dakwah   dengan  hukum – hukumNya. Sesungguhnya keterikatan seperti itu, baik dari pihak laki-laki maupun wanita, adalah termasuk salah satu kegiatan dakwah untuk merealisasikan Islam. Dengan demikian, apabila seorang wanita berpakaian secara syar’i, perilakunya islami baik di dalam lingkungan keluarga maupun di dalam lingkungan masyarakat, bahkan membenci setiap kebiasaan orang Barat dan lainnya yang begitu nampak sekarang dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam, serta ia merasa bangga dengan ide-ide, hukum-hukum dan kebiasaan yang bernafaskan Islam pada saat ia menampilkan semua ciri Islam ini di dalam dirinya, maka sesungguhnya ia sudah menjadi seorang da’iyah (pengemban dakwah Islam) walaupun ia sendiri tidak merencanakannya. Oleh karena itu, perilaku yang baik adalah langkah awal dalam berdakwah kepada Islam, khususnya bagi wanita muslimah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: